Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat setelah serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru bahwa Teheran berpotensi menggunakan ranjau laut untuk menghambat atau bahkan memblokade jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.
Sebagai langkah antisipasi, Amerika Serikat mengerahkan kapal tempur pesisir USS Canberra (LCS-30) yang memiliki kemampuan khusus untuk mendeteksi dan membersihkan ranjau laut. Kapal tersebut menjadi bagian dari upaya Angkatan Laut AS untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu titik strategis paling sensitif di dunia. Jalur ini memiliki lebar sekitar 39 kilometer pada bagian tersempitnya. Namun, jalur navigasi kapal yang digunakan untuk lalu lintas internasional hanya sekitar tiga kilometer di masing-masing arah. Kondisi tersebut membuat selat ini sangat rentan terhadap gangguan keamanan, termasuk ancaman ranjau laut.
Menurut situs U.S. Naval Institute, misi pembersihan ranjau yang dilakukan Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah saat ini dijalankan oleh beberapa kapal tempur pesisir yang telah ditempatkan di wilayah tersebut. Salah satunya adalah USS Canberra yang dilengkapi modul pembersihan ranjau dengan teknologi terbaru.
Berdasarkan informasi dari Naval Sea Systems Command, USS Canberra diperkirakan menelan biaya pembangunan sekitar USD600 hingga USD700 juta. Kapal ini dirancang sebagai kapal tempur pesisir yang dapat menjalankan berbagai misi melalui sistem modul yang dapat diganti sesuai kebutuhan operasi.
Program pengembangan kapal perang jenis Littoral Combat Ship (LCS) sendiri dimulai oleh Angkatan Laut AS pada awal tahun 2000-an. Program tersebut muncul setelah berbagai operasi militer pasca Perang Dingin menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas angkatan laut berlangsung di wilayah dekat pantai, bukan di laut lepas.
Perairan pesisir memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan laut dalam. Area ini biasanya lebih dangkal, memiliki kepadatan lalu lintas kapal yang tinggi, serta menghadapi berbagai ancaman asimetris seperti ranjau laut, kapal cepat bersenjata, hingga kapal selam berukuran kecil.
Menurut U.S. Naval Institute, konsep utama program LCS adalah penggunaan sistem “paket misi” yang dapat dipertukarkan sesuai kebutuhan. Dengan pendekatan tersebut, satu kapal dapat menjalankan berbagai jenis operasi seperti peperangan anti-permukaan, peperangan anti-kapal selam, hingga operasi penyapuan ranjau tanpa harus merombak keseluruhan sistem persenjataannya.
Dalam pengembangan LCS, Angkatan Laut Amerika Serikat menciptakan dua desain utama kapal. Desain pertama adalah kelas Freedom yang menggunakan lambung tunggal tradisional. Sementara desain kedua adalah kelas Independence yang menggunakan struktur tiga lambung atau trimaran.
USS Canberra merupakan bagian dari kelas Independence. Kapal ini dibangun oleh perusahaan galangan kapal Austal USA yang berbasis di Alabama, Amerika Serikat.
Nama Canberra sendiri dipilih untuk mengenang kapal penjelajah berat USS Canberra (CA-70) yang pernah bertugas pada masa Perang Dunia II. Kapal perang LCS-30 ini diluncurkan pada tahun 2021 dan secara resmi mulai bertugas dalam armada Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 2023.
Berdasarkan laporan dari Naval Technology, desain trimaran pada USS Canberra menampilkan satu lambung utama di tengah serta dua lambung tambahan di sisi kanan dan kiri. Konfigurasi tersebut memberikan stabilitas yang lebih baik saat kapal melaju dengan kecepatan tinggi.
Selain meningkatkan stabilitas, desain tersebut juga memperluas area dek serta ruang interior kapal. Ruang tambahan ini dimanfaatkan untuk menempatkan berbagai kompartemen misi dan sistem peralatan yang dibutuhkan untuk operasi khusus seperti pembersihan ranjau laut.
Secara teknis, USS Canberra memiliki panjang sekitar 127 meter dengan lebar mencapai 31,6 meter. Kapal ini memiliki bobot sekitar 3.100 ton, menjadikannya salah satu kapal tempur pesisir berukuran menengah yang cukup lincah dalam operasi.
Keunggulan lain dari kapal ini adalah kemampuannya mencapai kecepatan lebih dari 40 knot atau sekitar 74 kilometer per jam. Angka tersebut tergolong sangat tinggi untuk kapal perang dengan ukuran seperti ini. Selain itu, USS Canberra juga memiliki jangkauan operasi hingga sekitar 4.300 mil laut.
Dengan kemampuan tersebut, kapal ini dinilai sangat cocok untuk menjalankan berbagai operasi di wilayah perairan yang sempit dan kompleks seperti Selat Hormuz. Kehadirannya di kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya Amerika Serikat untuk memastikan jalur pelayaran internasional tetap aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Red.











