majalahsuaraforum.com – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap prinsip multilateralisme dalam tatanan dunia yang semakin kompleks. Ia menyerukan agar ASEAN dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat menjadi contoh nyata bagi dunia bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada kerja sama dan kolaborasi, bukan pada konfrontasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Menlu Sugiono saat membacakan pernyataan nasional Indonesia atas nama Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-PBB ke-15 yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Selasa (28/10/2025).
“ASEAN dan PBB harus berdiri teguh untuk menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kolaborasi, bukan konfrontasi,” ujar Sugiono, sebagaimana dikutip dari naskah resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Menlu Sugiono menjelaskan bahwa Rencana Aksi ASEAN-PBB 2026–2030 akan menjadi pedoman utama dalam memperkuat kerja sama yang lebih konkret, relevan, dan berorientasi masa depan. Fokus kerja sama tersebut, kata Sugiono, akan diarahkan pada dua isu penting, yakni ketahanan pangan dan perubahan iklim, yang dinilai sangat menentukan masa depan kawasan.
Menurutnya, membangun sistem pangan yang tangguh serta mempercepat transisi energi berkelanjutan menjadi hal yang sangat penting dalam mewujudkan kawasan yang stabil dan sejahtera. Dalam hal ini, peran lembaga-lembaga di bawah PBB seperti FAO (Food and Agriculture Organization) dan WFP (World Food Programme) sangat dibutuhkan untuk memperkuat agenda ketahanan pangan di kawasan Asia Tenggara.
“Indonesia menantikan kerja sama yang lebih erat dengan PBB untuk memperkuat ketahanan pasokan pangan kawasan dan mendorong pertanian berkelanjutan,” tambahnya.
Dalam konteks perubahan iklim, Sugiono menyoroti inisiatif ASEAN Power Grid, yang menurutnya merupakan langkah strategis dalam meningkatkan konektivitas energi dan mendorong integrasi energi terbarukan antarnegara di kawasan. Ia juga mengajak PBB untuk turut berperan aktif dalam mendukung pembiayaan serta peningkatan kapasitas guna mempercepat transisi energi yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
“Kami mengundang PBB menjadi mitra dalam memfasilitasi akses pembiayaan, adopsi teknologi, dan peningkatan kapasitas, agar transisi energi berjalan adil, bermanfaat, dan tidak meninggalkan siapa pun,” tegasnya.
Selain menyoroti isu pangan dan energi, Menlu Sugiono juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan kelembagaan antara ASEAN dan PBB. Ia mendorong agar PBB memperluas kehadirannya di Jakarta sebagai bentuk nyata komitmen bersama dalam mendukung perdamaian, keberlanjutan, dan kemitraan global.
“Kehadiran PBB yang lebih kuat di Jakarta, jantung diplomasi ASEAN, akan menjadi pesan nyata tentang komitmen kita terhadap aksi bersama yang berlandaskan kemitraan dan saling menghormati,” ungkap Sugiono menutup pernyataannya.
Melalui pidatonya, Menlu Sugiono menegaskan bahwa Indonesia akan terus memainkan peran aktif dalam membangun dunia yang lebih damai, berkelanjutan, dan berkeadilan, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan diplomasi kolaboratif di tingkat global.
Red.











