Home / Kabar Berita / Tragedi Keluarga Kerajaan Nepal 2001: Putra Mahkota Dipendra Tembak Raja, Ratu, dan Kerabat

Tragedi Keluarga Kerajaan Nepal 2001: Putra Mahkota Dipendra Tembak Raja, Ratu, dan Kerabat

majalahsuaraforum.com – Peristiwa kelam yang mengguncang Kerajaan Nepal pada 1 Juni 2001 masih meninggalkan luka sekaligus misteri mendalam. Putra Mahkota Dipendra, dalam keadaan mabuk dan berada di bawah pengaruh zat terlarang, melakukan penembakan yang menewaskan sembilan anggota keluarganya. Korban di antaranya Raja Birendra, Ratu Aishwarya, Putri Shruti, Pangeran Nirajan, serta beberapa bangsawan lainnya. Setelah itu, Dipendra menembak dirinya sendiri.

Insiden tersebut memusnahkan hampir seluruh inti keluarga kerajaan Nepal dalam satu malam, meninggalkan trauma besar bagi masyarakat.

Seruan Pemulihan Monarki di Tengah Trauma Rakyat Baru-baru ini, generasi muda Nepal kembali turun ke jalan dalam sebuah demonstrasi. Sebagian kecil dari mereka menyerukan agar monarki yang telah dihapus pada 2008 dihidupkan kembali. Namun, seruan tersebut tidak mendapatkan dukungan luas. Rakyat Nepal masih teringat jelas peristiwa berdarah 2001 yang mengacaukan stabilitas politik negeri Himalaya itu.

Kronologi Peristiwa Narayanhiti Tragedi ini terjadi di Istana Narayanhiti, Kathmandu, yang kini berfungsi sebagai museum. Pada malam kejadian, Putra Mahkota Dipendra, kala itu berusia 29 tahun, hadir dalam sebuah pesta keluarga. Ia sempat menikmati minuman sebelum meninggalkan ruangan. Tidak lama berselang, ia kembali dengan mengenakan seragam militer lengkap serta membawa dua senapan serbu AK-47.

Dipendra kemudian melepaskan tembakan bertubi-tubi, menewaskan Raja Birendra, Ratu Aishwarya, Putri Shruti, Pangeran Nirajan, dan lima anggota keluarga kerajaan lainnya. Ia juga sempat menembak pamannya hingga terluka, sebelum akhirnya menembak kepalanya sendiri.

Laporan resmi pemerintah Nepal menyatakan bahwa Dipendra berada di bawah pengaruh alkohol, ganja, dan zat lain yang tidak diketahui ketika melakukan aksi tersebut.

Dinobatkan Sebagai Raja Saat Koma Meski dalam keadaan koma akibat luka tembak di kepala, Dipendra sempat dinyatakan sebagai Raja Nepal. Namun, ia kemudian mengalami mati otak dan meninggal dunia pada 4 Juni 2001. Setelah kematiannya, kekuasaan beralih kepada pamannya, Gyanendra Bir Bikram Shah Dev, yang kemudian menjadi raja terakhir Nepal hingga monarki resmi dihapuskan pada tahun 2008.

Misteri Motif Penembakan Hingga kini, motif di balik aksi berdarah Dipendra masih menjadi perdebatan. Banyak yang meyakini bahwa kemarahan Dipendra dipicu oleh penolakan keluarganya terhadap hubungannya dengan Devyani Rana, putri seorang politisi berpengaruh. Media Nepal saat itu juga menyoroti status Dipendra sebagai pewaris takhta yang belum menikah, sehingga posisinya dinilai terancam.

Selain itu, sebagian masyarakat Nepal menghubungkan tragedi ini dengan ramalan yang muncul pada abad ke-18. Menurut ramalan tersebut, Dinasti Shah hanya akan bertahan selama sepuluh generasi. Raja Birendra, yang merupakan generasi ke-11, diyakini sebagai simbol berakhirnya kejayaan dinasti tersebut.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh