Majalahsuaraforum.com – Media sosial kembali diramaikan dengan istilah unik yang sedang viral: rojali, akronim dari “rombongan jarang beli”. Meski terdengar lucu, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang bergerak di sektor kuliner dan ritel.
Istilah rojali merujuk pada kebiasaan sekelompok orang yang ramai-ramai datang ke pusat perbelanjaan, restoran, atau kafe, namun tidak melakukan pembelian. Mereka hanya memanfaatkan fasilitas seperti Wi-Fi gratis, tempat duduk, dan suasana nyaman tanpa memberikan kontribusi finansial terhadap bisnis yang mereka datangi.
Kehadiran rojali ini dianggap mengganggu kelangsungan usaha karena penggunaan fasilitas tanpa transaksi berarti menyebabkan pemborosan sumber daya, seperti listrik dan tempat duduk, yang seharusnya dimanfaatkan pelanggan yang membeli.
Fenomena ini dinilai sebagai cerminan dari tekanan ekonomi yang dialami masyarakat. Kebutuhan pokok yang terus naik dan pendapatan yang stagnan membuat sebagian masyarakat memilih bersantai di ruang publik tanpa berbelanja.
Meski begitu, rojali juga menunjukkan pola konsumsi baru yang lebih selektif. Banyak orang kini lebih fokus pada pengalaman sosial dan kenyamanan lingkungan daripada belanja barang atau makanan.
Kondisi ini membuat pelaku usaha harus mulai memikirkan pendekatan baru yang lebih adaptif dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen. Pemerintah juga diimbau untuk menaruh perhatian lebih terhadap fenomena ini, sebagai indikator dari ketimpangan ekonomi yang makin terasa di kalangan masyarakat urban.
“Ia adalah cerminan realitas sosial dan ekonomi masyarakat urban Indonesia hari ini,” demikian salah satu pernyataan dalam laporan tersebut yang menyoroti pentingnya memahami perubahan ini secara menyeluruh.
Fenomena rojali bukan sekadar tren maya, tetapi sinyal nyata akan perlunya strategi bisnis yang lebih inklusif, serta perlindungan yang lebih kuat bagi UMKM yang kini makin terdesak.
Pen. Lan.











