Home / Kabar Berita / Dua Kapal Kargo Tenggelam di Sekitar Selat Hormuz, Ancaman Pelayaran Meningkat

Dua Kapal Kargo Tenggelam di Sekitar Selat Hormuz, Ancaman Pelayaran Meningkat

foto istimewa 

majalahsuaraforum.com – Dua kapal kargo dilaporkan tenggelam di sekitar Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam setelah terkena proyektil dalam dua insiden berbeda. Peristiwa tersebut kembali menyoroti meningkatnya ancaman terhadap kapal komersial yang melintasi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Kedua kapal yang tenggelam tersebut adalah GFS Pride, kapal kontainer berbendera Singapura, dan Cape Dao, kapal pengangkut barang yang mengibarkan bendera Antigua dan Barbuda. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya serangan di sekitar Selat Hormuz selama 10 hari terakhir.

Iran menyatakan akan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan-pelabuhannya serta pengetatan sanksi yang diberlakukan pada bulan sebelumnya.

GFS Pride menjadi salah satu kapal yang mengalami insiden saat melintasi Selat Hormuz. Kapal kontainer tersebut tergolong berukuran relatif kecil dengan kapasitas 2.824 twenty-foot equivalent units (TEU), yakni satuan untuk mengukur kapasitas kontainer setara peti kemas sepanjang 20 kaki.

Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura (MPA) menyampaikan bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan hingga terbakar sebelum akhirnya tenggelam. Meski demikian, seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Tidak ada laporan mengenai awak yang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Dalam pernyataan yang dilansir Reuters pada Kamis (15/10/2026), MPA menjelaskan bahwa GFS Pride sedang melintasi Selat Hormuz pada Selasa (13/10/2026) ketika insiden terjadi.

Sementara itu, Cape Dao tenggelam setelah sebelumnya terkena proyektil pada 23 September 2026. Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kapal tersebut baru tenggelam beberapa pekan setelah insiden awal.

Dalam kejadian sebelumnya, satu awak kapal dilaporkan meninggal dunia, sedangkan awak lainnya segera dievakuasi setelah serangan. Pengelola kapal yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA), Peonies Shipmanagement FZE, belum berhasil dihubungi untuk dimintai keterangan mengenai kejadian tersebut.

GFS Pride dan Cape Dao tercatat sebagai kapal kedua dan ketiga yang tenggelam sejak perang AS-Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Kesimpulan tersebut didasarkan pada analisis terhadap data kecelakaan kapal milik IMO.

MPA Kecam Serangan terhadap Kapal Komersial

Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura menyampaikan keprihatinan mendalam atas berlanjutnya serangan terhadap kapal komersial yang berlayar di Selat Hormuz. MPA menilai tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan bertentangan dengan ketentuan hukum internasional.

“Serangan semacam itu tidak beralasan, tidak dapat dibenarkan, dan merupakan pelanggaran hukum internasional,” demikian pernyataan MPA.

Perusahaan manajemen risiko maritim MARISKS juga menilai insiden terbaru memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kapal komersial di Selat Hormuz masih sangat serius. Risiko tersebut tidak hanya mengincar kapal tanker, tetapi juga kapal kontainer dan kapal pengangkut barang curah.

Sejumlah kapal komersial dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat serangan, sehingga tidak dapat melanjutkan operasional. Bahkan, beberapa insiden berakhir dengan tenggelamnya kapal.

Meningkatnya ancaman di dalam dan sekitar Selat Hormuz menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur perairan tersebut. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melewati selat ini.

Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi energi global. Karena itu, meningkatnya serangan terhadap kapal komersial menjadi perhatian bagi industri pelayaran dan pasar energi internasional.

Iran Perketat Kendali atas Jalur Pelayaran

Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Teheran berupaya memperketat kendalinya atas Selat Hormuz. Pembatasan lalu lintas kapal disebut sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan posisi tawar Iran dalam menghadapi Washington.

Dua pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran semakin mengandalkan taktik baru untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Strategi itu bertujuan menjaga harga minyak tetap tinggi sekaligus memengaruhi pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.

Selama ini, serangan yang melibatkan Iran dan AS terutama berfokus pada kapal tanker. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kapal kontainer dan kapal pengangkut barang curah juga menghadapi risiko serupa.

Kapal-kapal tersebut tidak hanya berpotensi mengalami kerusakan yang menghambat operasional, tetapi juga dapat tenggelam akibat serangan.

Dengan semakin banyaknya insiden yang melibatkan kapal komersial, keamanan Selat Hormuz menjadi persoalan penting di tengah konflik yang masih berlangsung. Jalur tersebut memiliki peran besar dalam perdagangan energi dunia, sehingga gangguan berkepanjangan dapat membawa dampak luas terhadap pelayaran dan distribusi minyak serta gas alam cair internasional.

 

red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh