foto istimewa
majalahsuaraforum.com — Pemerintah Rusia membantah kabar mengenai dugaan munculnya kasus kedua penyakit menular di wilayah Irkutsk, Siberia. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah pemberlakuan karantina menyusul meninggalnya seorang pekerja laboratorium anti-wabah yang diduga terpapar patogen berbahaya.
Pemerintah Rusia memastikan situasi kesehatan di wilayah tersebut masih terkendali dan tidak menimbulkan ancaman epidemi bagi masyarakat.
Mengutip layanan pers badan pengawas konsumen dan kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, kantor berita Tass pada Kamis (8/10/2026) melaporkan bahwa informasi yang beredar di media sosial mengenai adanya kasus kedua penyakit menular itu tidak benar.
Rospotrebnadzor menyatakan tidak ditemukan insiden yang melibatkan mikroorganisme patogen sebagaimana yang dikabarkan. Badan tersebut juga menegaskan bahwa penerapan prosedur keselamatan saat bekerja dengan mikroorganisme berbahaya telah diperiksa dan dinyatakan sesuai ketentuan.
“Langkah-langkah pencegahan dan anti-epidemi yang komprehensif telah diterapkan. Tidak ada risiko epidemi bagi penduduk kota Irkutsk dan wilayah Irkutsk,” kata Rospotrebnadzor, dikutip dari Anadolu, Jumat (9/10/2026).
Badan pengawas itu turut menyampaikan bahwa hingga Rabu (7/10/2026), proses pemantauan terhadap lebih dari 90% orang yang pernah melakukan kontak dengan pihak terkait di wilayah Irkutsk telah diselesaikan. Dari pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular yang sedang diselidiki.
WHO Minta Rusia Membuka Informasi
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikabarkan tengah menelusuri laporan mengenai kemungkinan adanya kasus kedua wabah pneumonia di Rusia. Penyelidikan tersebut mencuat setelah seorang pekerja laboratorium bernama Daria Shipilova meninggal dunia.
Shipilova bekerja di Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk yang berlokasi di Shelekhov. Kematian perempuan berusia 28 tahun itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan paparan patogen berbahaya di lingkungan laboratorium.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi bahwa organisasinya telah meminta informasi tambahan dari otoritas kesehatan Rusia untuk mengetahui lebih jauh mengenai kejadian tersebut.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa (6/10/2026) malam waktu setempat, Tedros juga mendesak pemerintah Rusia agar mengungkapkan seluruh informasi yang diketahui terkait dugaan wabah tersebut.
Permintaan WHO itu muncul ketika otoritas Rusia masih melakukan pemeriksaan dan pemantauan terhadap orang-orang yang berpotensi melakukan kontak dengan pihak terkait.
Pekerja Laboratorium Meninggal Setelah Mengalami Gagal Napas
Menurut informasi yang beredar, Shipilova mulai menjalani perawatan di rumah sakit pada akhir September setelah mengalami gagal napas akut. Selama dirawat, ia dilaporkan membutuhkan alat bantu pernapasan sebelum akhirnya meninggal dunia pada Jumat (2/10/2026).
Laporan media lokal menyebut Shipilova diduga terpapar patogen berbahaya setelah secara tidak sengaja memecahkan tabung berisi sampel biologis ketika sedang menjalankan pekerjaannya di laboratorium.
Kejadian tersebut memicu perhatian terhadap prosedur keselamatan kerja dan penanganan bahan biologis berbahaya di fasilitas penelitian anti-wabah.
Meski demikian, pemerintah Rusia membantah adanya kasus kedua seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial. Rospotrebnadzor menegaskan langkah pencegahan telah dijalankan dan tidak ada risiko epidemi bagi warga Irkutsk maupun wilayah sekitarnya.
Perkembangan kasus ini masih menjadi perhatian karena WHO telah meminta penjelasan lebih lanjut dari otoritas Rusia. Informasi tambahan diperlukan untuk memperjelas penyebab kematian pekerja laboratorium tersebut sekaligus memastikan apakah terdapat risiko kesehatan yang lebih luas.
red.










