majalahsuaraforum.com — Harga daging ayam ras di sejumlah daerah mengalami kenaikan dan turut memberikan tekanan terhadap inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas tersebut kembali memberikan andil terhadap inflasi sepanjang September 2026.
Kenaikan harga tersebut antara lain dipengaruhi meningkatnya permintaan, termasuk kebutuhan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta perubahan harga pakan ternak.
Untuk mengantisipasi kenaikan harga yang lebih tinggi di daerah tertentu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan skema subsidi biaya angkut dari wilayah sentra produksi menuju daerah yang bukan merupakan produsen daging ayam ras dan mengalami keterbatasan pasokan.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kelancaran distribusi, menstabilkan pasokan, sekaligus mengurangi gejolak harga daging ayam di tingkat konsumen.
“Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang,” terang Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dikutip, Rabu (7/10/2026).
Bapanas Buka Opsi Subsidi Angkutan
Hermawan menjelaskan, persoalan biaya distribusi menjadi salah satu tantangan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan strategis. Kondisi tersebut terutama dirasakan wilayah yang tidak menjadi sentra produksi daging ayam.
Karena itu, Bapanas membuka opsi pemberian subsidi biaya angkut agar produksi dari daerah yang mengalami surplus dapat dikirim ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
“(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada,” kata Hermawan lagi.
Berdasarkan pemantauan Bapanas, harga rata-rata daging ayam ras secara nasional per 2 Oktober 2026 berada di angka Rp40.961 per kilogram.
Harga tersebut tercatat turun 0,62 persen dibandingkan satu pekan sebelumnya yang berada pada level Rp41.218 per kilogram. Jika dibandingkan dengan kondisi sebulan sebelumnya, harga tersebut juga turun 0,82 persen dari Rp41.300 per kilogram.
Harga Ayam Sempat Tertekan pada April dan Mei
Sebelumnya, harga daging ayam ras sempat mengalami tekanan pada April 2026. Pada periode tersebut, komoditas daging ayam ras mencatat deflasi sebesar 6,20 persen.
Tekanan harga berlanjut pada Mei 2026 dengan deflasi sebesar 3,83 persen. Kondisi tersebut turut memberikan dampak terhadap peternak unggas di dalam negeri.
Data BPS menunjukkan indeks harga yang diterima petani unggas juga mengalami penurunan setelah mencapai 138,19 pada Maret 2026.
Indeks tersebut kemudian turun menjadi 132,22 pada April, 130,57 pada Mei, 127,23 pada Juni, dan 127,02 pada Juli.
Setelah mengalami penurunan selama beberapa bulan, indeks harga tersebut mulai kembali menguat. Pada Agustus 2026, indeks naik menjadi 132,43 dan kembali meningkat menjadi 134,99 pada September 2026.
“Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal,” ungkap Deputi Bapanas Hermawan.
Stok Ayam hingga Akhir 2026 Diproyeksikan 1 Juta Ton
Dari sisi ketersediaan, pemerintah memproyeksikan stok daging ayam ras hingga akhir 2026 mencapai sekitar 1 juta ton.
Proyeksi tersebut berasal dari stok awal tahun yang berada di kisaran 200 ribu ton dan perkiraan produksi dalam negeri sekitar 4,7 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi daging ayam secara nasional diperkirakan mencapai sekitar 3,9 juta ton.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan pasokan dan harga mulai dari tingkat produksi hingga konsumen.
Salah satu intervensi dilakukan dari sisi produksi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.
Program tersebut ditujukan untuk membantu peternak unggas mendapatkan bahan baku pakan dengan harga yang lebih ekonomis sehingga biaya produksi dapat lebih terkendali.
SPHP Jagung Pakan Kembali Diperpanjang
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan Perum Bulog untuk meneruskan penyaluran jagung pakan kepada para peternak.
Pemerintah juga menyiapkan tambahan alokasi SPHP jagung pakan sebanyak 150 ribu ton.
“Menambah dan memperpanjang SPHP. Nah itu Bulog, tanggung jawab saya, Bulog, perpanjang sepanjang-panjangnya. Selama peternak butuh, kasih. Titik. Mudah, jangan ada basa-basi. SPHP Bulog kita lanjutkan,” beber Kepala Bapanas Amran.
Program SPHP jagung pakan 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei. Pemerintah menetapkan total kuota penyaluran tahap pertama sebanyak 213,2 ribu ton.
Kuota tersebut diperuntukkan memenuhi kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak yang berada dalam skala usaha mikro, kecil, dan menengah.
Hingga 2 Oktober 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung pakan telah mencapai 71,36 persen dari total target tahap pertama dan kedua yang mencapai 241,2 ribu ton.
Secara keseluruhan, sebanyak 172,1 ribu ton jagung pakan telah disalurkan kepada peternak yang tersebar di 29 provinsi.
Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah peternak penerima terbanyak, yakni mencapai 3.690 peternak. Setelah itu, Jawa Tengah berada di posisi berikutnya dengan jumlah penerima sebanyak 2.017 peternak.
Tambahan 150 Ribu Ton Jagung Pakan Diproses
Pemerintah memastikan dukungan terhadap keberlangsungan ekosistem peternakan unggas nasional akan terus dilanjutkan. Salah satu langkahnya adalah dengan menambah alokasi SPHP jagung pakan.
Tambahan sebanyak 150 ribu ton tersebut saat ini masih dalam proses untuk menambah alokasi penugasan kepada Perum Bulog.
Penambahan itu diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan sekaligus memberikan dukungan kepada peternak dalam menghadapi dinamika harga dan biaya produksi.
Dengan subsidi distribusi bagi daerah yang mengalami kekurangan pasokan serta dukungan terhadap ketersediaan jagung pakan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga daging ayam dari sisi hulu hingga hilir.
lan.










