Home / Ekonomi / Harga Kedelai Terus Naik, Pemerintah Pertimbangkan Subsidi agar Harga Tahu-Tempe Tetap Terjangkau

Harga Kedelai Terus Naik, Pemerintah Pertimbangkan Subsidi agar Harga Tahu-Tempe Tetap Terjangkau

majalahsuaraforum.com – Pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons kenaikan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama tahu dan tempe. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pemberian subsidi untuk menekan dampak kenaikan harga terhadap perajin sekaligus menjaga harga pangan olahan berbasis kedelai tetap terjangkau bagi masyarakat.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, harga kedelai di pasar saat ini telah berada di kisaran Rp13.200 per kilogram. Angka tersebut meningkat dibandingkan harga sebelumnya yang berada di sekitar Rp12.000 per kilogram.

“Harga kedelai sekarang saya cek di kisaran Rp13.200-an dari sebelumnya Rp12.000 per kilogram, dan tadi kami sudah berkomunikasi dengan Kemenko Pangan agar secepatnya diadakan rapat koordinasi,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Kenaikan harga tersebut juga tercermin dalam data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag serta Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada awal Oktober 2026.

Berdasarkan data tersebut, harga rata-rata kedelai biji kering impor secara nasional berada di kisaran Rp13.600 hingga Rp13.700 per kilogram.

Harga tersebut telah berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan melalui Peraturan Bapanas Nomor 12 Tahun 2024. Dalam aturan tersebut, harga acuan maksimal kedelai berada di level Rp12.000 per kilogram di tingkat perajin tahu dan tempe, sedangkan di tingkat importir ditetapkan sebesar Rp11.500 per kilogram.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah melakukan konsolidasi lintas kementerian untuk menentukan langkah yang dapat dilakukan dalam mengendalikan dampak kenaikan harga kedelai.

Budi mengatakan, salah satu skema yang tengah dikaji adalah kembali memberikan subsidi atas selisih harga komoditas impor, seperti yang pernah dilakukan pemerintah sebelumnya.

“Dulu kan pernah diberikan subsidi, nanti kita tunggu arahan pimpinan apakah subsidi atau bentuk intervensi lain di tengah kondisi perang global dan kenaikan harga minyak, karena yang terpenting kita harus meringankan pengrajin tempe agar harga tetap murah dan terjangkau,” kata Budi.

Menurut pemerintah, kenaikan harga kedelai tidak dapat dilepaskan dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan kedelai dari luar negeri.

Data neraca pangan Bapanas menunjukkan kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,7 juta ton setiap tahun. Dari total kebutuhan tersebut, lebih dari 90% masih dipenuhi melalui impor.

Tingginya ketergantungan terhadap pasokan impor membuat harga kedelai di dalam negeri rentan mengalami perubahan akibat berbagai faktor eksternal.

Sejumlah faktor tersebut antara lain kondisi geopolitik, perubahan nilai tukar dolar Amerika Serikat, hingga kenaikan harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak juga dapat berdampak terhadap biaya logistik dan angkutan laut yang pada akhirnya ikut memengaruhi harga komoditas yang didatangkan dari luar negeri.

Selain mengkaji kemungkinan pemberian subsidi, pemerintah juga menyiapkan penguatan Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP). Cadangan tersebut akan dikelola oleh Perum Bulog sebagai salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan kedelai di dalam negeri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menghadapi kenaikan harga kedelai sekaligus menjaga pasokan bagi pelaku usaha yang bergantung pada komoditas tersebut sebagai bahan baku utama.

Pemerintah masih menunggu arahan lebih lanjut mengenai bentuk intervensi yang akan diterapkan. Opsi subsidi maupun bentuk kebijakan lainnya akan dibahas melalui koordinasi lintas kementerian dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan perkembangan ekonomi global.

 

Lan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh