Home / Kabar Berita / Arab Saudi Hentikan Sementara Pipa East-West Usai Diserang Drone, Harga Energi Berisiko Naik

Arab Saudi Hentikan Sementara Pipa East-West Usai Diserang Drone, Harga Energi Berisiko Naik

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Arab Saudi untuk sementara menghentikan pengoperasian pipa minyak East-West setelah fasilitas strategis tersebut menjadi sasaran serangan udara. Langkah penghentian dilakukan sebagai tindakan pencegahan seiring konflik di Timur Tengah yang semakin meluas dan berpotensi memberikan tekanan baru terhadap harga energi dunia.

Pemerintah Arab Saudi menyebut serangan menggunakan pesawat nirawak atau drone itu diduga dilancarkan dari wilayah Irak. Pemerintah Irak juga menyampaikan dugaan yang serupa. Di Irak sendiri terdapat sejumlah kelompok milisi yang diketahui mendapat dukungan dari Iran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah orang mengalami luka-luka. Sementara itu, tingkat kerusakan pada fasilitas masih dalam tahap pemeriksaan dan penilaian.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi belum memberikan penjelasan lebih jauh mengenai dampak serangan maupun penghentian sementara pipa tersebut terhadap aktivitas ekspor minyak negara itu.

Gambaran satelit memperlihatkan kepulan asap hitam berasal dari sekitar jalur pipa yang berada di sebelah selatan Madinah. Sampai saat ini, belum ada kelompok atau pihak tertentu yang secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang tengah berada di Irlandia untuk menghadiri turnamen golf di salah satu resornya, menyampaikan dugaan bahwa Iran mungkin berada di balik serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi tersebut.

Pipa East-West merupakan salah satu infrastruktur penting dalam sistem distribusi minyak Arab Saudi. Jalur tersebut membentang sekitar 1.200 kilometer melintasi Semenanjung Arab.

Dalam enam bulan terakhir, keberadaan pipa ini menjadi semakin strategis karena menjadi salah satu jalur utama untuk membawa minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar internasional. Kondisi tersebut terjadi setelah Selat Hormuz sebagian besar tidak dapat digunakan secara normal akibat perang.

Sebelum mengalami gangguan, pipa East-West mampu menyalurkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4% hingga 5% dari pasokan minyak dunia.

Keberadaan jalur tersebut juga memberikan ruang bagi Arab Saudi untuk mengurangi dampak gangguan terhadap jalur pelayaran yang turut memengaruhi eksportir minyak dan gas lainnya di kawasan Teluk.

Penghentian operasional pipa terjadi ketika harga minyak global telah mengalami peningkatan sepanjang pekan terakhir. Di Amerika Serikat, harga eceran bahan bakar diesel bahkan telah mencapai rekor baru, yakni menembus US$6 per galon.

Risiko terhadap pasokan energi global semakin besar karena AS dan Iran juga terlibat dalam aksi saling serang terhadap kapal tanker. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang memiliki hubungan dengan Iran terus memperluas pengaruhnya di kawasan Laut Merah.

Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terganggunya jalur distribusi minyak lain yang memiliki peranan penting bagi perdagangan energi internasional.

Selain ancaman terhadap fasilitas minyak, Arab Saudi juga menghadapi tekanan dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Putra Mahkota sekaligus penguasa de facto Arab Saudi, Mohammed bin Salman, bahkan telah meminta bantuan militer Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman tersebut.

Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Mohammed bin Salman menelepon Trump pada Kamis (10/9/2026) untuk meminta dukungan militer AS. Namun, Washington untuk sementara belum bersedia terlibat langsung dalam konflik tersebut dan hanya menawarkan bantuan berupa intelijen.

Trump pada Sabtu (12/9/2026) membenarkan bahwa dirinya telah berbicara dengan Mohammed bin Salman. Ia juga mengungkapkan bahwa kelompok Houthi telah menghubungi pemerintahannya dan meminta Amerika Serikat tidak ikut terlibat secara langsung dalam konflik.

Di sisi lain, empat sumber dari pemerintah Yaman menyebut kelompok Houthi telah mengambil alih Pulau Perim pada Jumat (11/9/2026).

Pulau tersebut memiliki posisi strategis karena terletak di tengah Selat Bab el-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Penguasaan wilayah tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran dan distribusi energi melalui kawasan tersebut.

Ketegangan antara AS dan Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Hingga saat ini belum terdapat pembicaraan antara kedua negara yang bertujuan mengakhiri konflik, setelah kesepakatan yang dicapai pada Juni 2026 kemudian runtuh hanya dalam beberapa pekan.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi melalui unggahan di X pada Sabtu menyatakan dialog dengan Amerika Serikat tidak akan memberikan hasil selama Washington belum menerima seluruh persyaratan yang diajukan Iran.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan bahwa negaranya akan menghadiri pertemuan bersama negara-negara Arab di kawasan Teluk yang akan berlangsung di Oman pada Senin (14/9/2026).

Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas masa depan Selat Hormuz yang saat ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik dan perdagangan energi dunia.

Meski demikian, seorang pejabat senior Iran memperingatkan bahwa pertemuan tersebut belum tentu menghasilkan terobosan. Sumber yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim mengatakan pertemuan itu merupakan inisiatif Oman.

Menurut sumber tersebut, pembahasan akan mencakup sejumlah persoalan, termasuk mengenai Selat Hormuz. Namun, pertemuan tersebut diperkirakan tidak langsung menghasilkan kesepakatan tertulis.

Salah satu agenda yang disebut akan dibicarakan adalah kemungkinan tercapainya kesepakatan mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz antara Iran dan Oman. Irak juga dijadwalkan ikut menghadiri pertemuan tersebut.

Namun, menurut sumber kantor berita Tasnim, Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum tujuh persyaratan yang sebelumnya telah disampaikan kepada Amerika Serikat dipenuhi.

Pemerintah Oman sendiri hingga kini belum secara resmi mengumumkan penyelenggaraan pertemuan tersebut. Negara-negara Teluk lainnya juga belum memberikan keterangan resmi terkait agenda tersebut.

Bahrain pada Sabtu bahkan telah menyatakan bahwa negaranya tidak akan menghadiri pertemuan dengan Iran.

Salah satu tuntutan utama Iran berkaitan dengan pengakuan terhadap kendalinya atas Selat Hormuz. Iran juga menginginkan hak untuk memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Namun, pemerintah Amerika Serikat menolak tuntutan itu. Sementara Oman, yang menguasai wilayah di sisi lain Selat Hormuz, menyatakan bahwa proses perundingan dilakukan dengan persetujuan negara-negara lain di kawasan.

Situasi tersebut membuat penghentian sementara pipa East-West menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya gangguan terhadap jalur energi dan pelayaran di kawasan Timur Tengah. Jika gangguan terhadap sejumlah jalur utama berlangsung lebih lama, tekanan terhadap pasokan minyak global dan harga energi berpotensi semakin besar.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh