Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Piala Dunia selama ini dipromosikan sebagai perayaan terbesar olahraga yang menyatukan berbagai bangsa tanpa memandang latar belakang politik, ras, maupun kewarganegaraan. Namun sejarah menunjukkan bahwa ketika Amerika Serikat menjadi tuan rumah, sejumlah persoalan terkait kebijakan imigrasi dan diskriminasi kerap mencuat ke permukaan.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar bersama Kanada dan Meksiko, tetapi juga pernah menjadi sorotan pada Piala Dunia 1994 yang berlangsung di Amerika Serikat.
Suporter Nigeria yang Tak Bisa Menyaksikan Timnya Pada Piala Dunia 1994, Nigeria tampil gemilang saat mengalahkan Bulgaria dengan skor telak 3-0. Gol-gol yang dicetak Rashidi Yekini, Daniel Amokachi, dan Emmanuel Amunike menjadi awal perjalanan mengesankan tim berjuluk Super Eagles di turnamen tersebut.
Namun kemenangan itu tidak sepenuhnya dirayakan oleh para pendukung Nigeria. Ratusan suporter gagal hadir di stadion karena tidak memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat.
Saat itu Nigeria tengah menghadapi krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik. Banyak warga berharap dapat mendukung langsung tim nasional mereka di panggung dunia, tetapi proses visa yang ketat menjadi penghalang.
Juru bicara Biro Urusan Konsuler Amerika Serikat saat itu, Gary Sheaffer, menjelaskan bahwa setiap pemohon visa harus mampu membuktikan adanya ikatan kuat dengan negara asal agar diyakini akan kembali setelah kunjungan berakhir.
Meski demikian, sebagian pendukung Nigeria masih dapat mencapai Amerika Serikat melalui kebijakan khusus yang memungkinkan maskapai asal Nigeria melakukan transit dan pendaratan tertentu.
“Dikatakan bahwa mereka bertindak atas saran AS. Administrasi Penerbangan Federal, yang akan memberikan keamanan, termasuk mengawasi pembongkaran semua penumpang dan bagasi di persinggahan di Senegal,” menurut laporan The Washington Post, 10 Juni 1994.
Kasus serupa juga dialami pendukung dari Rumania dan Bulgaria yang gagal memperoleh visa wisata untuk menyaksikan tim mereka berlaga.
Amerika Serikat dan Ambisi Menjadi Negara Sepak Bola Ketika FIFA menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994 pada 1988 di Zurich, keputusan tersebut memunculkan banyak pertanyaan. Saat itu sepak bola belum menjadi olahraga utama di negeri tersebut.
FIFA lebih melihat potensi pasar dan kekuatan ekonomi Amerika Serikat dibanding tradisi sepak bolanya. Proposal yang diajukan federasi sepak bola Amerika disertai berbagai jaminan mengenai keamanan, infrastruktur, dan dukungan pemerintah.
Negara itu juga dinilai memiliki keuntungan berupa stadion-stadion berkapasitas besar yang sebelumnya digunakan untuk pertandingan American Football, sehingga tidak memerlukan pembangunan fasilitas baru dalam jumlah besar.
Dalam pengumuman resmi FIFA saat itu, Wakil Presiden FIFA Harry Cavan menyampaikan keputusan organisasi tersebut.
“Saya menyatakan atas nama FIFA bahwa negara tuan rumah Piala Dunia 1994 adalah: Amerika Serikat,” ujar wakil presiden FIFA Harry Cavan dalam keputusannya saat itu.
Keputusan tersebut kemudian menjadi titik balik perkembangan sepak bola di Amerika Serikat.
Piala Dunia 1994 dan Kebangkitan Sepak Bola Amerika Sebelum 1994, sepak bola di Amerika Serikat masih dianggap olahraga pinggiran. Dominasi American Football, bisbol, dan basket membuat sepak bola kesulitan memperoleh tempat di hati publik.
Kehancuran North American Soccer League (NASL) pada 1984 semakin memperburuk citra sepak bola profesional di negara tersebut. Meski pernah diperkuat legenda dunia seperti Pelé, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, dan Gerd Müller, liga itu akhirnya runtuh karena persoalan finansial dan lemahnya fondasi kompetisi.
Situasi mulai berubah ketika Piala Dunia 1994 berlangsung. Turnamen tersebut sukses menarik jutaan penonton dan menciptakan atmosfer yang belum pernah dirasakan sebelumnya oleh masyarakat Amerika.
Sebanyak 3,58 juta penonton tercatat hadir sepanjang turnamen, menjadikannya salah satu Piala Dunia dengan jumlah penonton terbesar sepanjang sejarah. Final antara Brasil dan Italia di Rose Bowl bahkan disaksikan lebih dari 94 ribu orang secara langsung.
Kesuksesan tersebut membuka jalan bagi lahirnya Major League Soccer (MLS) pada 1996, yang kemudian menjadi fondasi utama perkembangan sepak bola profesional di Amerika Serikat.
“Perkembangan tim nasional dan pembentukan Major League Soccer tidak akan terjadi tanpa Piala Dunia,” ucap Alan Rothenberg.
Keberhasilan itu membuat sepak bola Amerika berkembang pesat, baik di level pria maupun wanita, hingga akhirnya menjadi salah satu kekuatan penting dalam dunia sepak bola modern.
Kontroversi Menjelang Piala Dunia 2026 Tiga puluh dua tahun setelah sukses menggelar Piala Dunia, Amerika Serikat kembali menjadi sorotan menjelang penyelenggaraan edisi 2026.
Sejumlah kasus yang melibatkan kebijakan imigrasi memunculkan kritik dari berbagai pihak. Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah pengalaman wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan.
Meski telah memperoleh penugasan resmi dari FIFA dan memiliki dokumen lengkap, Artan justru ditahan saat tiba di Miami. Ia menjalani pemeriksaan panjang terkait kondisi politik Somalia dan dugaan keterkaitannya dengan kelompok militan Al-Shabab sebelum akhirnya dipulangkan ke Istanbul.
Akibat insiden tersebut, namanya dicoret dari daftar wasit yang bertugas pada turnamen internasional.
Persoalan serupa juga disebut menimpa sejumlah delegasi dan ofisial dari negara-negara lain, termasuk Iran dan Irak. Beberapa pejabat federasi maupun pendukung mengalami kesulitan memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat.
Pemerintah Iran bahkan menyampaikan kritik keras terhadap perlakuan tersebut.
“Ini merupakan bentuk campur tangan yang paling buruk dalam olahraga yang bias politik,” tulis Kedutaan Besar Iran di Ankara, Turki.
Selain isu visa, tingginya harga tiket dan besarnya biaya penyelenggaraan juga memunculkan kritik. Sejumlah kota tuan rumah disebut harus mengeluarkan dana sangat besar untuk kebutuhan keamanan dan operasional turnamen.
Sorotan terhadap FIFA dan Standar Ganda Kontroversi yang muncul menjelang Piala Dunia 2026 turut memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi FIFA dalam menerapkan prinsip netralitas olahraga.
Organisasi tersebut selama ini sering menegaskan bahwa politik tidak boleh mencampuri sepak bola. Namun sejumlah pengamat menilai FIFA tidak selalu bersikap sama terhadap berbagai kasus yang melibatkan negara tuan rumah maupun konflik internasional.
Kritik juga diarahkan kepada Presiden FIFA Gianni Infantino yang dianggap belum memberikan respons tegas terhadap berbagai laporan terkait hambatan visa dan perlakuan terhadap sejumlah peserta.
Penulis dan akademisi Jules Boykoff menilai bahwa situasi ini justru membuka ruang bagi publik untuk melihat lebih kritis berbagai persoalan hak asasi manusia yang terjadi di negara-negara demokrasi.
“Dan sejujurnya, Piala Dunia, jika mempunyai dampak positif, hal ini dapat membuka mata banyak orang terhadap standar ganda yang kita bicarakan di sini, dan mulai melihat Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi lainnya dengan lensa yang lebih kritis yang juga mempertimbangkan masalah hak asasi manusia mereka,” kata Jules Boykoff, penulis buku Red Card: The 2026 World Cup, Sportswashing, and the FIFA Greed Machine.
Menjelang kick-off Piala Dunia 2026, berbagai perdebatan mengenai akses, diskriminasi, politik imigrasi, dan komersialisasi masih terus berlangsung. Situasi ini membuat sebagian kalangan mempertanyakan apakah turnamen terbesar sepak bola dunia tersebut benar-benar dapat menjadi pesta global yang terbuka bagi semua orang, atau justru semakin dipengaruhi kepentingan politik dan ekonomi yang berada di luar lapangan hijau.
Jay.











