Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Kondisi kesehatan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menjadi sorotan luas setelah muncul laporan mengenai cedera serius yang dialaminya dalam serangan udara pada awal konflik bersenjata.
Berdasarkan keterangan sejumlah sumber yang dekat dengan lingkaran dalam pemerintahan Iran kepada Reuters, Khamenei dilaporkan mengalami luka berat pada bagian wajah dan kaki akibat serangan yang menargetkan kompleks kediaman pemimpin tertinggi di Teheran.
Cedera Parah, Tapi Tetap Aktif Memimpin Meski mengalami luka serius, Khamenei disebut menunjukkan pemulihan secara bertahap. Ia dilaporkan masih memiliki ketajaman berpikir dan tetap menjalankan perannya sebagai pemimpin, termasuk mengikuti rapat-rapat penting melalui konferensi audio.
Keterlibatannya juga mencakup pengambilan keputusan strategis, terutama terkait konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat serta Israel.
Belum Ada Bukti Visual, Spekulasi Menguat Hingga saat ini, belum ada satu pun foto, video, atau rekaman suara resmi yang dirilis sejak Khamenei dilantik pada 8 Maret 2026 menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan tersebut.
Reuters juga menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen kondisi kesehatan Khamenei. Sementara itu, misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut.
Dugaan Kehilangan Kaki dan Status “Janbaz”
Serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 itu tidak hanya menewaskan Ali Khamenei, tetapi juga sejumlah anggota keluarga, termasuk istri Mojtaba Khamenei.
Media pemerintah Iran sempat menyebut Khamenei sebagai janbaz, istilah yang merujuk pada individu yang mengalami luka berat akibat perang.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Khamenei kemungkinan mengalami cacat fisik. Bahkan, sumber intelijen Amerika Serikat menyebut ia diduga kehilangan satu kaki, meskipun klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi.
Peran Belum Sepenuhnya Dominan Pengamat Timur Tengah dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai bahwa Khamenei kemungkinan tidak akan langsung memiliki otoritas penuh seperti pendahulunya.
“Mojtaba akan menjadi salah satu suara, tetapi bukan suara yang menentukan. Ia perlu membuktikan dirinya sebagai figur yang kredibel dan dominan,” ujar Vatanka.
Dominasi Garda Revolusi dan Minimnya Informasi Dalam sistem pemerintahan Iran, pemimpin tertinggi memiliki kendali atas lembaga-lembaga strategis, termasuk militer elit Garda Revolusi. Namun, dalam situasi perang saat ini, sejumlah sumber menyebutkan bahwa peran Garda Revolusi justru semakin dominan dalam pengambilan keputusan.
Minimnya informasi mengenai kondisi Khamenei turut memicu berbagai spekulasi di masyarakat, terutama di media sosial Iran. Berbagai teori bermunculan, termasuk dugaan mengenai siapa yang sebenarnya mengendalikan pemerintahan saat ini.
Salah satu simbol yang viral adalah gambar kursi kosong dengan tulisan, “Di mana Mojtaba?”
Ketidakhadiran Dinilai Strategis Di tengah spekulasi yang berkembang, sebagian pendukung pemerintah Iran menilai absennya Khamenei dari publik merupakan langkah strategis demi keamanan.
Seorang anggota milisi Basij dari Qom menyatakan:
“Mengapa dia harus tampil di depan umum? Untuk menjadi sasaran para penjahat ini?”
Penampilan Publik Masih Ditunggu Sumber lain menyebutkan bahwa kemungkinan kemunculan publik atau rilis visual Khamenei baru akan dilakukan dalam satu hingga dua bulan ke depan, tergantung pada kondisi kesehatannya serta situasi keamanan di Iran.
Red.











