Home / TNI/Polri / Serangan di Maybrat: Kelompok TPNPB-OPM Klaim Kuasai Senjata TNI Usai Kontak Tembak

Serangan di Maybrat: Kelompok TPNPB-OPM Klaim Kuasai Senjata TNI Usai Kontak Tembak

majalahsuaraforum.com – Kelompok bersenjata yang tergabung dalam Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat mengklaim berhasil menguasai sejumlah senjata api dan amunisi milik aparat TNI setelah melakukan penyerangan terhadap pos keamanan di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Peristiwa kontak tembak tersebut terjadi pada Minggu pagi, 22 Maret 2026. Dalam insiden itu, dua prajurit Marinir TNI Angkatan Laut dilaporkan gugur, sementara satu personel lainnya mengalami luka berat.

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan langsung dari pasukan di lapangan, yakni TPNPB Kodap IV Sorong Raya yang dipimpin oleh Denimos dan Zakarias Fatem. Kelompok tersebut menyatakan bertanggung jawab penuh atas serangan yang terjadi.

“Serangan dipimpin langsung oleh Komandan Operasi Kodap IV Sorong Raya, Manfred Fatem, bersama Samuel Asem. Kami berhasil menyita satu pucuk senjata FN Minimi MK3 buatan Belgia, satu pucuk senjata M4, dua unit magasin, dan 49 butir amunisi kaliber 5,56,” ujar Sebby dalam keterangannya, Kamis (26/3/2026).

Lebih lanjut, Sebby menegaskan bahwa seluruh perlengkapan militer yang berhasil dirampas tersebut telah menjadi milik kelompoknya dan tidak akan dikembalikan. Ia juga mengklaim bahwa dalam dua titik pertempuran, pihaknya berhasil melumpuhkan delapan aparat, meskipun satu anggota mereka, Alfons Sorry, turut tewas dalam baku tembak.

Di sisi lain, pihak TNI membenarkan adanya kehilangan senjata dalam insiden tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh, senjata yang dilaporkan hilang meliputi satu pucuk K3 Daewo lengkap dengan magasin dan amunisi, serta satu pucuk pistol Caracal beserta magasinnya.

Dua prajurit Marinir yang gugur dalam kejadian tersebut diketahui bernama Andi Suvio dan Elki Saputra, yang berasal dari satuan Yonif 7 Marinir. Jenazah keduanya telah dipulangkan ke daerah asal masing-masing untuk dimakamkan secara militer.

Kronologi kejadian bermula sekitar pukul 06.35 WIT, ketika lima personel tim jaga pos tinjau yang dipimpin oleh Serda Mar Rafli Oktavian bergerak menuju lokasi pemantauan. Saat hendak menempati posisi, mereka tiba-tiba mendapat serangan tembakan dari arah depan.

Kontak senjata pun tak terhindarkan. Pasukan TNI kemudian melakukan perlawanan sambil menunggu bantuan. Tak lama berselang, bantuan datang dipimpin oleh Letda Mar Hayatu bersama 18 personel tambahan untuk melakukan penyisiran area serta mengevakuasi korban.

Dalam pernyataan lanjutan, pihak TPNPB Kodap IV Sorong Raya juga menyampaikan tuntutan kepada pemerintah Indonesia agar menarik seluruh pos militer dari wilayah permukiman warga sipil di Maybrat. Mereka bahkan menetapkan Distrik Aifat Timur dan Kabupaten Maybrat sebagai zona merah dalam operasi militer mereka.

“Kami meminta Panglima TNI mengakui anggotanya yang tewas dan berhenti memberikan stigma kriminal kepada TPNPB. Kami berperang untuk kemerdekaan, bukan untuk pembangunan jalan atau uang,” tegas pernyataan tersebut.

Tidak hanya itu, kelompok tersebut juga mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat sipil yang beraktivitas di wilayah konflik, termasuk pedagang, pengemudi ojek, hingga aparatur sipil negara, untuk segera meninggalkan area tersebut. Mereka mengancam akan mengeksekusi pihak yang dianggap sebagai bagian dari intelijen.

Hingga saat ini, kondisi keamanan di Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, masih dalam penjagaan ketat oleh aparat gabungan TNI dan Polri guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya serangan lanjutan.

Hil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh