majalahsuaraforum.com — Warisan budaya Aceh yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” kini semakin mudah diakses masyarakat dunia. Melalui kolaborasi lintas negara yang menggabungkan kekayaan sejarah Indonesia dengan inovasi teknologi modern, pameran digital bertajuk “Keuneubah Aceh” resmi diluncurkan di pusat kebudayaan @america, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Peluncuran ini bukan hanya sekadar menghadirkan pameran virtual, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam melestarikan koleksi Museum Nasional Indonesia agar dapat dinikmati lebih luas melalui platform global Google Arts & Culture.
Proyek besar ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat lewat program U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP) yang berfokus pada pelestarian warisan budaya dunia.
Artefak Aceh Dihidupkan Lewat Teknologi Modern Melalui pameran “Keuneubah Aceh”, pengunjung diajak menjelajahi kekayaan budaya masyarakat Aceh, Gayo, hingga Alas tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Pameran ini merupakan hasil kerja panjang yang melibatkan penelitian arsip mendalam, digitalisasi beresolusi tinggi, serta kunjungan lapangan langsung ke masyarakat Aceh.
Sejumlah artefak penting yang ditampilkan dalam pameran ini antara lain:
Alat musik tradisional Gegedem dan Canang, Senjata khas Aceh, Rencong, Wadah Sirih Pinang yang sarat nilai sosial dan filosofi Juru Bicara Kedutaan Besar AS di Jakarta, Jamie Ravetz, menegaskan komitmen Amerika Serikat dalam mendukung pelestarian budaya Indonesia.
“Pameran ini mencerminkan betapa pentingnya dokumentasi dan teknologi inovatif untuk menyediakan koleksi museum bagi generasi sekarang dan masa depan,” ujarnya.
Sinergi Banyak Lembaga dalam Satu Pameran Di balik terselenggaranya pameran ini, terdapat kerja sama kuat antara berbagai institusi, mulai dari Yayasan Jalin Narasi Budaya/Southeast Asia Museum Services (SEAMS) melalui program Koleksi Kita, Museum Nasional Indonesia, hingga Museum Cagar Budaya (MCB).
Dyah Mitayani selaku Pimpinan Kegiatan Koleksi Kita menekankan bahwa koleksi museum seharusnya terus berkembang dan tidak bersifat statis.
“Maknanya terus berkembang dengan penelitian mendalam dan perspektif baru. Pameran ini adalah awal untuk dialog dan kolaborasi di masa depan,” kata Dyah.
Sementara itu, Direktur Eksekutif MCB, Esti Nurjadin, memberikan apresiasi atas dukungan internasional dari AFCP. Menurutnya, penguatan museum nasional membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan kerja sama antarnegara.
AFCP dan Peran Amerika dalam Pelestarian Budaya Global Program AFCP sendiri tercatat telah mendukung pelestarian warisan budaya di lebih dari 100 negara. Di Indonesia, dukungan Amerika Serikat tidak hanya terbatas pada pelestarian artefak fisik.
Dalam beberapa tahun terakhir, mereka juga aktif membantu menjaga bahasa daerah serta tradisi kuliner Nusantara yang mulai terancam punah.
Peluncuran “Keuneubah Aceh” di Google Arts & Culture menjadi bukti bahwa sejarah tidak harus terkurung dalam lemari museum, melainkan dapat terus hidup dan menginspirasi melalui ruang digital.
Informasi lebih lanjut terkait program Koleksi Kita dapat diakses melalui tautan resmi yang tersedia.
Aan.











