majalahsuaraforu.com – Gelombang aksi protes yang melanda Iran berubah menjadi tragedi kemanusiaan berskala besar. Untuk pertama kalinya sejak kerusuhan meluas, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara terbuka mengakui bahwa ribuan warga telah meninggal dunia akibat kekerasan yang terjadi selama unjuk rasa.
Dalam pidato yang disampaikan pada Sabtu, Khamenei menyebut sebagian korban tewas mengalami kematian dengan cara yang “tidak manusiawi dan kejam”. Namun, pengakuan tersebut tidak disertai dengan permintaan maaf ataupun pengakuan kesalahan dari pihak pemerintah.
Tudingan Dialamatkan ke Amerika Serikat Alih-alih mengambil tanggung jawab, Khamenei justru menuding keterlibatan pihak asing sebagai penyebab utama jatuhnya ribuan korban. Ia menuduh kelompok yang berafiliasi dengan intelijen Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan yang melumpuhkan negaranya.
“Kami menganggap Presiden AS sebagai penjahat atas jatuhnya korban jiwa, kerusakan, dan fitnah yang ia timpakan kepada bangsa Iran,” ujar Khamenei, dikutip dari AP, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, campur tangan Washington bertujuan untuk melemahkan dan bahkan “menelan” kedaulatan Iran.
Data Korban Jauh Lebih Besar Sementara pemerintah Iran belum merilis angka resmi, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) melaporkan jumlah korban jiwa mencapai tingkat yang jauh lebih mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang mereka himpun, sedikitnya 3.090 orang tewas akibat tindakan represif aparat keamanan dalam upaya membubarkan aksi protes.
Sejumlah kelompok aktivis HAM lainnya bahkan meyakini bahwa jumlah korban sesungguhnya melampaui angka tersebut, mengingat sulitnya akses informasi dari dalam negeri.
Internet Diputus, Informasi Diblokir Upaya pemantauan situasi di lapangan oleh komunitas internasional terhambat oleh kebijakan pemerintah Iran yang memutus akses komunikasi secara luas. Laporan dari pemantau siber NetBlocks menyebutkan konektivitas internet di Iran sempat turun drastis hingga hanya tersisa 2% dari kondisi normal.
Langkah ini diduga bertujuan untuk mencegah penyebaran rekaman kekerasan aparat keamanan terhadap warga sipil ke dunia internasional.
Meski demikian, BBC mengonfirmasi telah memverifikasi sejumlah video yang memperlihatkan pasukan keamanan Iran menembakkan senjata api secara langsung ke arah massa demonstran.
Protes Ekonomi Berubah Jadi Gerakan Politik Aksi protes yang awalnya dipicu persoalan ekonomi sejak 28 Desember lalu kini berkembang menjadi gerakan politik besar. Tuntutan demonstran tidak lagi sebatas perbaikan ekonomi, melainkan juga menuntut berakhirnya kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran.
Situasi ini memicu kecaman internasional dan seruan agar Khamenei mundur dari jabatannya.
Ancaman Intervensi dari Amerika Serikat Di tengah eskalasi kekerasan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras. Ia mendorong para demonstran untuk tetap menyuarakan aspirasi mereka dan tidak menutup kemungkinan intervensi militer jika pemerintah Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap warga sipil.
Trump menyatakan Gedung Putih terus memantau setiap langkah Teheran dengan cermat.
Ketegangan semakin meningkat setelah Departemen Luar Negeri AS melaporkan indikasi Iran tengah mempersiapkan serangan balasan yang berpotensi menyasar pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Washington pun memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan kekuatan yang “sangat, sangat kuat”.
Situasi Masih Belum Stabil Meski laporan dari sejumlah kota besar seperti Shiraz menyebutkan kondisi mulai berangsur normal dengan kehadiran patroli ketat pasukan keamanan bermotor, ketidakpastian masih membayangi Iran.
Dengan akses internet yang belum sepenuhnya pulih dan ancaman konflik militer dari luar negeri, masa depan stabilitas politik dan keamanan Iran tetap berada dalam situasi yang rapuh dan sulit diprediksi.
Red.











