majalahsuaraforum.com – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengumumkan bahwa negaranya telah berhasil mengembangkan sebuah senjata rahasia baru. Pernyataan ini ia sampaikan dalam pidatonya di sidang Majelis Rakyat Tertinggi pada Senin (22/9/2025), forum politik yang kerap dijadikan tempat untuk menyampaikan arah kebijakan penting rezimnya.
Klaim Kemajuan Pertahanan Dalam pidatonya, Kim menyebut negaranya telah mencatat perkembangan signifikan dalam memperkuat kemampuan militernya.
“Kami telah memperoleh senjata rahasia baru dan mencapai hasil signifikan dalam ilmu pertahanan dan penelitian, yang akan berkontribusi besar pada lompatan radikal kemampuan militer kami,” ujar Kim, dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA).
Meski tidak merinci lebih lanjut mengenai jenis senjata tersebut, Kim menyinggung bahwa modernisasi armada laut Korut kini tengah berlangsung. Ia menekankan bahwa peluncuran dua kapal perusak pada tahun ini merupakan sebuah “langkah besar” dalam membangun kekuatan maritim negaranya.
Kritik terhadap AS dan Sekutunya Kim kembali melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat dan sekutunya, Korea Selatan serta Jepang. Ia menuding kerja sama militer ketiga negara tersebut sebagai langkah provokatif yang berpotensi memperbesar ancaman konfrontasi nuklir.
“Upaya denuklirisasi tidak akan berhasil, bahkan setelah 100 tahun,” tegas Kim dalam pidatonya.
Namun, Kim juga menyatakan bahwa Korea Utara masih membuka peluang untuk menjalin hubungan baru dengan Washington, dengan satu syarat: Amerika Serikat harus menghentikan, menurutnya, “obsesi absurd dengan denuklirisasi.” Hanya dengan begitu, menurut Kim, koeksistensi damai bisa terwujud.
Dugaan Bantuan Militer Rusia Sejumlah pejabat Amerika Serikat dan sekutu menilai klaim Kim tersebut terkait erat dengan dukungan Rusia. Laporan intelijen Korea Selatan bahkan menyebut Moskow diduga telah menjanjikan pasokan jet tempur hingga teknologi kapal selam nuklir, sebagai imbalan atas kontribusi Korut dalam bentuk amunisi dan pasukan untuk perang di Ukraina.
Respons dari Korea Selatan dan AS Pidato Kim ini muncul di tengah pernyataan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang membuka opsi negosiasi baru. Lee menyebut kesepakatan berupa pembekuan program nuklir Korut lebih realistis dibanding langsung menuntut denuklirisasi penuh.
“Pertanyaannya, apakah kita harus bersikeras pada tujuan akhir yang sia-sia, atau menetapkan target yang lebih realistis,” ungkap Lee dalam wawancara dengan BBC.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengeluarkan tanggapan. Ia menyebut dirinya masih memiliki hubungan personal dengan Kim dan tidak menutup kemungkinan untuk bertemu kembali.
“Saya sangat mengenalnya, dan berharap bisa bertemu di masa depan,” ujar Trump.
Ketegangan di Semenanjung Korea Meski terdapat sinyal terbukanya jalur komunikasi, ketegangan di Semenanjung Korea tetap tinggi. Korea Utara terus mengembangkan program nuklir dan rudal balistik yang dilarang oleh PBB, sementara AS bersama Korea Selatan dan Jepang memperkuat kerja sama militer mereka sebagai langkah penyeimbang.
Red.











