Majalahsuaraforum.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan komitmen penuh untuk mengakhiri polusi plastik pada forum internasional. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, dalam pertemuan meja bundar tingkat menteri Intergovernmental Negotiating Committee (INC) yang berlangsung di Jenewa, Swiss, Rabu (13/8/2025).
Forum tersebut membahas strategi global untuk mengatasi polusi plastik, termasuk tantangan teknis, sosial, dan ekonomi yang dihadapi berbagai negara. Dalam kesempatan itu, Hanif mengucapkan terima kasih atas keramahan Pemerintah Swiss, serta memberikan apresiasi kepada Direktur Eksekutif UNEP, Ketua INC, dan pihak sekretariat yang telah mendorong kemajuan misi bersama untuk mengakhiri polusi plastik.
“Merupakan suatu kehormatan untuk bergabung dalam diskusi panel ini. Indonesia prihatin bahwa hingga kini belum ada kemajuan signifikan dalam mencapai perjanjian plastik global. Polusi plastik adalah ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia yang membutuhkan tindakan segera, kolektif, dan komprehensif,” ujar Hanif.
Ia menekankan bahwa proses negosiasi harus dilakukan secara inklusif dan adil, tanpa paksaan, karena setiap negara memiliki situasi serta tantangan yang berbeda. Hanif juga menyoroti bahwa negara-negara berkembang memerlukan dukungan teknologi, pendanaan, dan investasi dari negara maju untuk dapat mengambil langkah ambisius dalam memberantas polusi plastik.
“Indonesia mendukung peningkatan kerja sama bilateral untuk mempercepat tercapainya perjanjian multilateral dengan prinsip no one left behind. Harapan kami, penyelesaian polusi plastik dapat dicapai tanpa penundaan demi menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Indonesia sendiri telah menetapkan target pengelolaan 100% sampah, termasuk plastik, pada tahun 2029. Strategi yang diusung mencakup penghapusan plastik bermasalah, pelarangan bahan kimia berbahaya dalam proses produksi plastik, remediasi polusi plastik yang telah ada, serta pencegahan kebocoran plastik ke lingkungan.
Hanif menutup pernyataannya dengan menyerukan penguatan kerja sama internasional, baik dalam bentuk bilateral maupun multilateral, guna mempercepat pencapaian tujuan bersama. “Yang dibutuhkan sekarang adalah tindakan nyata dan solusi berkelanjutan untuk mengakhiri polusi plastik,” pungkasnya.
Pen. Red.










