Majalahsuaraforum.com, 5 Juli 2025 — Seorang remaja Palestina, Khader Qassem, tewas tertembak ketika berusaha mendapatkan bantuan makanan dari pusat distribusi di Gaza tengah. Pusat bantuan tersebut dikelola oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung oleh Amerika Serikat. Tragedi ini menambah panjang daftar korban sipil dalam krisis berkepanjangan di wilayah yang terkepung ini.
Khader, yang baru berusia 19 tahun, menjadi korban saat mencoba menjangkau pusat distribusi pada tengah malam, waktu ketika sebagian warga Gaza berharap bisa mendapatkan makanan dengan risiko lebih kecil. Namun, malam itu berubah menjadi mimpi buruk.
Mahmoud Qassem, ayah Khader, mengenang bahwa terakhir kali ia mendengar suara anaknya adalah pukul 11 malam. “Dia bilang dia aman, dia hanya ingin mendapatkan sedikit makanan,” kata Mahmoud dengan suara parau. Namun, pada pukul satu pagi, telepon Khader tak lagi aktif. Rasa cemas pun menyergap.
Setelah mencari di berbagai rumah sakit di wilayah tersebut, Mahmoud akhirnya menerima kenyataan pahit: putranya tewas akibat luka tembak.
Kisah Khader mencerminkan kondisi keputusasaan yang dihadapi warga Gaza. Akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan kini menjadi perjuangan yang bisa merenggut nyawa. Mahmoud menyuarakan kemarahannya atas situasi yang tidak manusiawi ini.
“Tidak ada yang peduli pada kami—tidak Hamas, tidak Israel, bahkan negara-negara Arab. Anak saya hanya ingin makan. Apakah itu alasan untuk membunuhnya?” katanya lirih.
Tragedi ini menjadi pengingat nyata atas penderitaan warga sipil Gaza yang terperangkap di tengah konflik dan kelaparan. Sementara dunia terus memperdebatkan politik dan kekuasaan, Khader hanyalah satu dari banyak nyawa muda yang hilang karena kebutuhan paling mendasar: bertahan hidup.
Pen. Red.











