majalahsuaraforum.com – Harapan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kembali menghadapi hambatan. Situasi geopolitik yang semakin memanas setelah serangan militer terbaru AS terhadap Pulau Qeshm, Iran, mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia pada perdagangan Selasa (3/11/2026).
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami penurunan tajam menyusul munculnya kabar mengenai peluang diplomasi antara kedua pihak. Namun, perkembangan terbaru di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan konflik dan terganggunya pasokan energi global.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik USD1,84 atau 1,76% menjadi USD106,61 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat meningkat USD1,60 atau 1,66% ke posisi USD98,06 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu serangan udara militer AS terhadap Pulau Qeshm, salah satu wilayah strategis Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz. Pejabat Washington mengonfirmasi operasi tersebut dan menyebut tindakan militer itu sebagai langkah defensif untuk mencegah milisi serta angkatan laut Iran menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.
Meski demikian, serangan tersebut semakin memperumit peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Pejabat senior Iran menyampaikan kepada Reuters bahwa Teheran tidak akan menerima tuntutan Washington yang dinilai berlebihan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menyatakan bahwa pemerintahnya telah memberikan tanggapan terhadap tekanan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa keputusan selanjutnya kini berada di tangan Washington.
“Teheran telah memberikan respons yang kuat dan rasional kepada Washington. Sekarang, bola sepenuhnya berada di tangan AS,” tegas Ghalibaf sebagaimana dikutip media pemerintah Iran.
Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, menilai perkembangan militer tersebut kembali meningkatkan premi risiko atau risk premium pada perdagangan komoditas global.
Menurutnya, pasar sebelumnya mulai memperhitungkan kemungkinan tercapainya penyelesaian melalui diplomasi. Namun, serangan terbaru menunjukkan bahwa aktivitas militer masih berlangsung dan membuat sentimen pasar kembali berubah.
“Tepat di saat pasar mulai memperhitungkan jalur diplomasi, pengingat akan aktivitas militer yang terus berlangsung ini secara instan membalikkan arah angin pasar,” ungkap Waterer.
Memanasnya situasi di Selat Hormuz juga terjadi bertepatan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum Sela atau Midterm Elections di Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat konsumen akibat konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu menjadi salah satu persoalan politik penting bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Harga minyak Brent bahkan telah menutup perdagangan Oktober pada level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan Amerika Serikat meningkatkan intensitas serangan militer setelah pemilu.
Ketegangan di sektor energi tidak hanya terjadi di kawasan Timur Tengah. Eropa Timur juga menghadapi perkembangan serupa setelah serangan drone Ukraina dilaporkan merusak fasilitas kilang minyak penting di Kota Yaroslavl, Rusia.
Gubernur wilayah Yaroslavl, Mikhail Evrayev, mengonfirmasi kerusakan tersebut. Sebagai respons, Kementerian Pertahanan Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas infrastruktur energi Ukraina yang berada di wilayah Vinnytsia, Dnipropetrovsk, dan Kharkiv.
Di tengah meningkatnya ketegangan di kedua kawasan tersebut, pemerintah Amerika Serikat turut mengumumkan rencana pertemuan antara delegasi Rusia dan Ukraina di Abu Dhabi pada 10–11 November mendatang.
Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas pakta keamanan pascaperang serta berbagai langkah untuk meredakan ketegangan antara kedua negara.
Perkembangan konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur kini menjadi perhatian pasar energi global. Ketidakpastian mengenai penyelesaian perang, ditambah risiko gangguan distribusi minyak, berpotensi terus memengaruhi pergerakan harga komoditas energi dunia.
red.










