majalahsuaraforum.com – Tujuh anggota delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) akhirnya kembali ke Tanah Air setelah upaya mereka mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Jalur Gaza tidak dapat dilanjutkan. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, para relawan menceritakan berbagai tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan misi tersebut di wilayah Libya.
Salah seorang delegasi GPCI, Muhamad Rikar Tayusan, mengungkapkan bahwa perjalanan mereka menuju Gaza menghadapi berbagai hambatan yang diduga bertujuan menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Menurutnya, tekanan yang mereka alami tidak hanya berupa pembatasan pergerakan, tetapi juga kampanye informasi yang dianggap menyesatkan.
Dihadapkan pada Propaganda dan Informasi Menyesatkan Rikar menjelaskan bahwa hambatan pertama muncul ketika rombongan bersiap bergerak menuju Kota Sirte. Saat berada di kawasan Judam Forest, delegasi GPCI mendapati beredarnya berbagai narasi dan video yang disebut-sebut dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Konten tersebut, kata dia, menggambarkan konvoi kemanusiaan secara negatif dan berpotensi memengaruhi pandangan masyarakat maupun aparat keamanan setempat terhadap keberadaan para relawan.
“Pas kami mau berangkat menuju Sirte, itu kami sempat juga mendapat semacam intimidasi dari negara sebelah, melakukan propaganda berupa video-video AI yang mereka buat. Kemudian narasi-narasi yang mereka buat untuk menggambarkan bahwa konvoi ini melakukan tindakan tidak terpujilah untuk negara Libya, termasuk ke Libya Timur,” kata Rikar di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Jumat (29/5/2026).
Meski demikian, para relawan berupaya memberikan klarifikasi melalui berbagai dokumentasi kegiatan yang mereka lakukan selama berada di lokasi. Mereka menyebarkan video dan aktivitas lapangan untuk membantah informasi yang dianggap tidak sesuai fakta.
“Tapi kita coba netralisir, kita buat banyak video di sana, banyak video-video aktivitas di sana, bahwa yang disebar itu adalah video-video hoax gitu, tidak benar. Nah pada akhirnya kami pun bisa bergerak dari Judam Forest,” ucap Rikar.
Perjalanan Diperlambat oleh Pemeriksaan Ketat Setelah berhasil melanjutkan perjalanan, hambatan berikutnya muncul dalam bentuk pemeriksaan keamanan yang berlangsung berulang kali di sejumlah titik. Menurut Rikar, kendaraan yang membawa relawan dan bantuan kemanusiaan mendapatkan pengawalan ketat dari aparat Libya Barat.
Rombongan harus beberapa kali berhenti dalam waktu cukup lama untuk menjalani pemeriksaan di berbagai pos pemeriksaan atau checkpoint yang dilalui sepanjang perjalanan.
“Sepanjang jalan kita jalan itu, itu kita dikawal militer dari Libya Barat sangat ketat. Sampai-sampai kita beberapa kali berhenti itu karena kita harus melalui checkpoint-checkpoint pemeriksaan karena dikhawatirkan ada penyusup yang masuk untuk menyerang bus kita. Jadi beberapa kali kita berhenti lama, kita pun nggak tahu kenapa berhentinya lama, cuma setelah clear baru kita bisa jalan,” papar Rikar.
Akibat proses pemeriksaan yang memakan waktu, konvoi tidak dapat melanjutkan perjalanan sesuai rencana. Mereka akhirnya harus mencari tempat aman untuk beristirahat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya.
“Sampai akhirnya kita terpaksa menginap di sebuah masjid di Jiten City namanya. Di situ ada masjid yang menyediakan tempatnya secara mendadak tanpa, tanpa direncanakan sebelumnya, untuk keamanan kita menginap di situ selama satu malam. Esoknya baru kita gerak lagi ke tempat tujuan yang mau kita camp itu,” terang Rikar.
Ancaman terhadap Sopir Truk Bantuan Menurut Rikar, hambatan paling serius terjadi ketika rombongan telah mendekati wilayah perbatasan antara Libya Barat dan Libya Timur. Saat berada di kawasan gurun bernama Birkat, konvoi menghadapi situasi yang dinilai membahayakan keselamatan seluruh peserta misi.
Ia menjelaskan bahwa wilayah tersebut berada tidak jauh dari checkpoint pertama menuju Libya Timur, yang menurutnya dijaga oleh kelompok bersenjata milisi.
“Jadi ketika kita sampai di camp gurun, nama daerahnya itu Birkat , saya lupa nama daerahnya, cuma itu sudah tidak jauh dari checkpoint pertama antara Libya Barat dan Libya Timur. Nah di Libya Timur itu mereka itu berupa pasukan bersenjata milisi yang tidak diakui secara secara kenegaraannya, sehingga apapun yang kita lakukan itu bisa berakibat fatal pada keselamatan kita,” ungkapnya.
Situasi menjadi semakin sulit ketika para sopir truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan disebut menerima ancaman apabila tetap melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya.
Rikar mengatakan ancaman tersebut membuat para sopir menolak melanjutkan perjalanan karena khawatir terhadap keselamatan mereka.
“Dan pada puncaknya adalah ketika kita mau bergerak, kita sudah siap bergerak, mobil kita disabotase lagi. Truk bantuan itu sopirnya diancam akan dibunuh kalau terus maju. Sehingga mereka nggak mau maju, kita pun coba negosiasi segala macam, akhirnya nggak bisa,” kata Rikar.
Misi Berakhir Sebelum Mencapai Gaza Kawasan Birkat akhirnya menjadi titik terakhir yang berhasil dicapai oleh delegasi GPCI dalam misi kemanusiaan tersebut. Rencana awalnya, bantuan yang dibawa akan melewati Libya, kemudian masuk ke Mesir sebelum akhirnya disalurkan ke Jalur Gaza.
Namun berbagai hambatan yang mereka hadapi, mulai dari propaganda, pemeriksaan berlapis, hingga ancaman terhadap pihak yang mengangkut bantuan, membuat perjalanan tidak dapat diteruskan.
Meski gagal mencapai Gaza, para relawan menegaskan bahwa misi tersebut merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan bagi warga Palestina yang masih menghadapi berbagai kesulitan akibat konflik yang berkepanjangan. Mereka berharap upaya penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza dapat terus dilakukan melalui jalur yang aman dan memungkinkan pada masa mendatang.
Red.











