majalahsuaraforum.com — Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai tidak semata-mata disebabkan oleh gejolak ekonomi global. Sejumlah persoalan domestik disebut ikut memperbesar tekanan terhadap mata uang nasional, meskipun Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai langkah stabilisasi.
Pandangan tersebut disampaikan anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dalam rapat kerja bersama Bank Indonesia yang membahas kondisi perekonomian nasional dan perkembangan nilai tukar rupiah.
Dalam forum tersebut terungkap bahwa Bank Indonesia telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp332 triliun sepanjang tahun 2025. Pada tahun ini, bank sentral juga kembali menambah pembelian SBN sebesar Rp133 triliun sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.
Selain intervensi melalui pembelian SBN, Bank Indonesia juga memperketat pembatasan pembelian dolar Amerika Serikat. Jika sebelumnya batas pembelian mencapai Rp50.000, kini jumlah tersebut diturunkan menjadi Rp25.000.
Meski berbagai instrumen kebijakan telah dijalankan, tekanan terhadap rupiah masih terus berlangsung. Kondisi itu memunculkan pertanyaan dari anggota Komisi XI DPR RI, Harris Turino, mengenai efektivitas langkah-langkah yang sudah dilakukan otoritas moneter.
“Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak katakan di presentasi tekanan global sangat besar. Ini memang diakui tekanan global sangat besar. Tetapi harus diakui juga bahwa ada masalah serius di domestik Pak,” ujar Harris Turino dalam rapat tersebut.
Menurutnya, kondisi ekonomi nasional saat ini menghadapi sejumlah tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Ia menyebut persoalan fiskal, defisit transaksi berjalan atau current account, hingga derasnya arus modal keluar menjadi faktor yang memperberat tekanan terhadap rupiah.
“Ada masalah di fiskal, ada masalah di current account, ada arus modal keluar dalam jumlah besar dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,” tuturnya.
Harris juga menyoroti situasi di pasar keuangan yang dianggap tidak lazim. Biasanya, ketika investor asing keluar dari pasar saham, dana tersebut akan berpindah ke instrumen obligasi atau surat utang negara yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, kondisi tersebut saat ini disebut tidak terjadi.
Padahal, tingkat yield surat utang negara diketahui sedang meningkat. Situasi itu menunjukkan bahwa investor tidak hanya melakukan perpindahan portofolio di dalam instrumen berbasis rupiah, melainkan benar-benar menarik dana keluar dari pasar domestik.
“Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan. Tetapi why? Kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” lanjutnya.
Ia menilai fenomena tersebut mengindikasikan adanya persoalan sentimen dan tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Menurut Harris, persoalan kepercayaan menjadi aspek penting yang harus segera dipulihkan pemerintah dan otoritas keuangan.
“Seharusnya mereka hanya mengimbangi portofolio antar instrumen di dalam rupiah. Ini saat ini tidak terjadi. Sehingga ada isu kepercayaan di sini yang cukup besar,” pungkasnya.
Kondisi pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir terus menjadi perhatian banyak pihak. Selain dipengaruhi dinamika ekonomi global, stabilitas ekonomi domestik serta keyakinan investor dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan mata uang nasional ke depan.
Lan.











