majalahsuaraforum.com – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan klarifikasi atas ceramahnya yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan polemik di tengah masyarakat. Dalam keterangannya di kediamannya di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), ia menegaskan bahwa isi ceramah tersebut telah dipahami secara keliru karena potongan video yang beredar tidak menampilkan konteks secara utuh.
Menurutnya, ceramah itu disampaikan pada momentum Ramadan di lingkungan Universitas Gadjah Mada dengan audiens yang sangat spesifik, yakni kalangan muslim dan intelektual kampus. Karena itu, pendekatan bahasa dan istilah yang digunakan disesuaikan dengan siapa yang hadir saat itu.
“Ceramah Ramadan itu audiensnya jelas, di masjid, di kampus, dan mayoritas muslim. Jadi pendekatannya disesuaikan,” ujarnya.
Singgung Pengalaman Menangani Konflik Maluku dan Poso Dalam penjelasannya, Jusuf Kalla juga mengulas pengalaman masa lalu ketika terlibat langsung dalam upaya penyelesaian konflik komunal di Maluku dan Poso. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan besar yang salah satunya dipicu oleh penyalahgunaan sentimen agama.
Ia mengungkapkan bahwa konflik di Maluku menyebabkan korban jiwa hingga sekitar 7.000 orang dalam kurun tiga tahun, sementara di Poso jumlah warga yang mengungsi mencapai sekitar 100.000 orang.
Saat itu, ketika masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, ia mengaku turun langsung ke wilayah konflik guna membantu proses perdamaian.
“Saya masuk tanpa pengawal. Saat itu tidak ada yang berani masuk ke wilayah konflik,” ungkapnya.
Dialog Jadi Kunci Penghentian Kekerasan Jusuf Kalla menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak bisa dilakukan dengan kekerasan, melainkan melalui dialog dan pendekatan lintas kelompok. Menurutnya, pemahaman antar komunitas menjadi faktor utama dalam menghentikan pertikaian.
Mengenai istilah “syahid” yang menjadi sorotan publik, ia menjelaskan bahwa istilah tersebut digunakan agar lebih mudah dipahami oleh audiens yang hadir saat ceramah berlangsung. Menurutnya, makna istilah tersebut setara dengan kata “martir”.
“Kalau saya gunakan istilah ‘martir’, belum tentu dipahami. Jadi saya pakai istilah yang sesuai konteks,” jelasnya.
Tegaskan Tidak Pernah Membenarkan Kekerasan Lebih lanjut, Jusuf Kalla menegaskan dirinya sama sekali tidak pernah bermaksud membenarkan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Sebaliknya, ia ingin menunjukkan bahwa banyak konflik muncul akibat kesalahpahaman, faktor politik, persoalan ekonomi, serta penafsiran ideologis yang kemudian dibungkus dengan narasi keagamaan.
“Tidak ada agama yang mengajarkan membunuh sesama, baik Islam maupun Kristen,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa agama seharusnya menjadi dasar untuk memperkuat persatuan, bukan dijadikan alat untuk memecah belah masyarakat.
Pesan untuk Generasi Muda dan Calon Pemimpin Menutup pernyataannya, Jusuf Kalla mengajak generasi muda serta para calon pemimpin bangsa agar menjadikan agama sebagai landasan moral dalam menjaga keadilan dan persatuan nasional.
“Jangan sekali-kali agama dipakai untuk konflik. Calon pemimpin harus adil dan rasional,” pesannya.
Dw.











