Foto. Ist
majalahsuaraforum.com — Di tengah berlangsungnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, muncul laporan intelijen yang menyoroti dugaan keterlibatan China dalam pengiriman persenjataan ke Iran.
Gencatan senjata ini sendiri berjalan beriringan dengan proses diplomasi yang dilakukan kedua negara melalui perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Indikasi Penguatan Militer Iran Berdasarkan laporan yang dikutip dari media internasional, Iran diduga memanfaatkan momentum gencatan senjata untuk memperkuat kembali kemampuan militernya. Salah satu langkah yang disebutkan adalah kemungkinan menerima pasokan sistem pertahanan udara dari pihak luar.
Pengiriman tersebut diperkirakan dapat terjadi dalam beberapa pekan ke depan, dengan jenis persenjataan yang menjadi perhatian adalah Man Portable Air Defense Systems (MANPADS). Senjata ini merupakan rudal antipesawat yang dapat dioperasikan secara portabel dari bahu, serta efektif untuk menargetkan pesawat militer yang terbang rendah.
Selain itu, terdapat dugaan bahwa jalur distribusi senjata dilakukan melalui negara ketiga. Cara ini diyakini digunakan untuk menyamarkan asal pengiriman agar tidak mudah terdeteksi.
Respons Resmi Pemerintah China Menanggapi tuduhan tersebut, pemerintah China langsung memberikan bantahan tegas. Melalui juru bicara kedutaan besar China di Washington, pihaknya menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak benar.
“China tidak pernah menyediakan senjata kepada pihak mana pun yang terlibat dalam konflik dan informasi yang dimaksud tidak benar,” tegasnya.
China juga meminta agar pihak AS tidak menyampaikan tuduhan tanpa dasar yang jelas. Selain itu, Beijing menyerukan kepada semua pihak yang terlibat agar menahan diri demi meredakan ketegangan yang tengah terjadi.
Dampak Konflik terhadap Kawasan Gencatan senjata antara AS dan Iran mulai berlaku sejak Rabu, setelah konflik bersenjata yang berlangsung selama beberapa pekan sejak akhir Februari.
Konflik tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar di kedua belah pihak, tetapi juga berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Salah satu dampak paling signifikan adalah terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak global.
Red.











