Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Media Israel, KAN News, melaporkan bahwa Indonesia berpeluang menjadi negara pertama yang mengirim personel ke Jalur Gaza sebagai bagian dari rencana pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF).
Penempatan pasukan ini disebut-sebut akan menjadi bagian dari pelaksanaan fase kedua kesepakatan gencatan senjata yang diinisiasi oleh Amerika Serikat. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga situasi keamanan di Gaza setelah konflik berkepanjangan yang melanda wilayah itu.
Dalam laporan yang ditayangkan pada Senin (9/2/2026), KAN News menyebut bahwa personel dari Indonesia berpotensi mulai ditempatkan di Gaza dalam beberapa pekan mendatang.
Rencana ini dikaitkan dengan agenda kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington, Amerika Serikat, untuk menghadiri forum bertajuk “KTT Perdamaian untuk Kemakmuran” yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari 2026.
KAN News dalam laporannya menyatakan:
“Indonesia akan menjadi negara pertama yang mengirim pasukan ke Gaza dalam kerangka Pasukan Stabilisasi Internasional,”
Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya pengamanan lanjutan pada fase berikutnya dari gencatan senjata.
Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa keberadaan ISF bukan untuk menjalankan operasi tempur maupun melakukan pelucutan senjata terhadap kelompok tertentu yang berada di Gaza.
Misi utama pasukan internasional ini lebih diarahkan pada tugas pemantauan, pengawasan jalannya gencatan senjata, serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik.
Dalam skema yang beredar, pasukan Indonesia disebut berpotensi ditempatkan di sejumlah titik strategis di wilayah selatan Gaza, termasuk kawasan Khan Younis dan Rafah.
Penempatan ini bertujuan untuk membantu memonitor situasi keamanan dan memastikan kesepakatan gencatan senjata berjalan sesuai rencana.
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Namun, isu mengenai penempatan pasukan internasional di Gaza semakin mendapat perhatian luas, seiring meningkatnya upaya diplomasi global untuk menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah pascakonflik.
Red.











