Foto. Ist
majalahsuaraforum.com – Iran dilaporkan mengirimkan sinyal kesediaan untuk menutup atau menangguhkan program pengembangan nuklirnya sebagai langkah meredakan ketegangan yang kian meningkat dengan Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut disebut sebagai upaya mencegah konflik terbuka antara kedua negara.
Menurut laporan The New York Times, sinyal tersebut muncul dalam rangkaian pertukaran informasi rahasia yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Inisiatif ini dikabarkan bertujuan menahan eskalasi konflik, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman akan mempertimbangkan opsi penggunaan kekuatan militer apabila Iran menolak tuntutan Washington. Informasi ini turut dikutip oleh The Jerusalem Post, Selasa (3/2/2026).
Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa komunikasi antara Iran dan AS dilakukan melalui perantara regional. Sejumlah utusan dari Turki, Mesir, Oman, dan Irak berperan menyampaikan pesan antara kedua pihak guna menekan potensi eskalasi. Langkah ini dilakukan menjelang pertemuan yang dijadwalkan berlangsung antara AS dan Iran pada Jumat (6/2/2026).
The New York Times juga melaporkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, baru-baru ini melakukan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pertemuan tersebut, Iran disebut tengah mempertimbangkan kembali opsi pengiriman uranium yang telah diperkaya ke Rusia, sebagaimana tercantum dalam kesepakatan nuklir tahun 2015.
Menanggapi isu tersebut, Juru Bicara Pemerintah Rusia Dmitry Peskov menyatakan bahwa topik tersebut sebenarnya telah lama masuk dalam agenda pembahasan. Di sisi lain, pemerintah Iran tetap menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan energi, bukan untuk pengembangan senjata nuklir.
Sebelumnya, sejak pekan lalu, Presiden Donald Trump diketahui meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dengan mengirimkan armada militer AS ke kawasan perairan sekitar Iran. Trump kembali menegaskan kesiapannya menggunakan kekuatan militer apabila Teheran mengabaikan tuntutan dari Washington.
“Kami memiliki kapal-kapal yang menuju ke Iran saat ini, kapal-kapal besar dan kami sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Kita lihat saja bagaimana hasilnya,” ungkap Trump.
Ketegangan antara Iran dan AS tersebut turut memicu respons dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, dalam sebuah diskusi pada konferensi tingkat tinggi (KTT) di Dubai baru-baru ini, mendesak Iran agar segera mencapai kesepakatan nuklir dengan AS.
Anwar Gargash menekankan bahwa kawasan Timur Tengah tidak membutuhkan konflik baru yang berpotensi memperburuk stabilitas regional.
Red.











