Home / Olahraga / PBSI Terapkan Promosi–Degradasi Berbasis KPI, Ini Pertimbangan dan Tujuan Utamanya

PBSI Terapkan Promosi–Degradasi Berbasis KPI, Ini Pertimbangan dan Tujuan Utamanya

majalahsuaraforum.com – Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi melakukan pembaruan besar dalam sistem pembinaan atlet nasional. Perubahan tersebut menyasar mekanisme promosi dan degradasi atlet yang tergabung dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas), dengan pendekatan yang dinilai lebih relevan terhadap tuntutan prestasi modern.

Kebijakan anyar ini dituangkan dalam Peraturan Organisasi (PO) Nomor 012 Tahun 2025 tentang Mekanisme Rekrutmen, Promosi, dan Degradasi Atlet serta Pelatih Pelatnas PP PBSI. Melalui aturan tersebut, PBSI menegaskan komitmennya membangun sistem pembinaan yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada capaian kinerja nyata.

Evaluasi Atlet Menggunakan Key Performance Indicator (KPI) Dalam sistem terbaru, PBSI menerapkan evaluasi berkelanjutan berbasis key performance indicator (KPI). Setiap atlet pelatnas dinilai berdasarkan target kinerja yang telah ditetapkan oleh pelatih sesuai dengan level dan sektor masing-masing.

Dengan pendekatan ini, penilaian performa atlet tidak lagi bergantung pada evaluasi tahunan, melainkan dipantau secara kontinu sepanjang musim kompetisi.

“Evaluasi seorang atlet ditentukan oleh KPI yang sudah ditentukan oleh pelatihnya masing-masing. Jika seorang atlet tidak mencapai KPI yang telah ditetapkan maka akan terkena degradasi. Oleh karena itu jangka waktu degradasi setiap atlet akan berbeda tergantung dari KPI mereka masing-masing,” tulis PBSI melalui keterangan tertulisnya, Senin (12/1/2026).

Konsekuensi dari sistem ini adalah degradasi dapat terjadi kapan saja apabila atlet tidak mampu memenuhi target kinerja. Mekanisme tersebut dirancang agar pembinaan menjadi lebih adaptif dan responsif terhadap performa aktual, sekaligus mendorong atlet menjaga konsistensi prestasi.

Promosi Atlet Difokuskan Lewat Seleksi Nasional Selain sistem degradasi, PBSI juga melakukan penyesuaian dalam jalur promosi atlet menuju pelatnas. Promosi kini difokuskan melalui seleksi nasional (seleknas) yang akan diselenggarakan setiap awal tahun.

Skema ini membuka peluang yang lebih luas bagi atlet potensial dari berbagai daerah untuk masuk dalam pembinaan elite nasional.

“Sementara itu untuk sistem promosi akan dilakukan lewat mekanisme Seleknas PBSI yang akan dilaksanakan setiap awal tahun dan untuk jumlah pengambilan pemain harus sesuai dengan kriteria yang dibuat oleh bidang pembinaan prestasi PP PBSI dan untuk jumlah akan disesuaikan dengan kebutuhan atlet di Pelatnas,” kata Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Eng Hian.

Melalui mekanisme tersebut, PBSI ingin memastikan bahwa atlet yang masuk pelatnas benar-benar memiliki kesiapan dan kualitas untuk bersaing di level internasional, bukan berdasarkan pertimbangan non-teknis.

Alasan PBSI Menghapus Evaluasi Tahunan Perubahan sistem promosi–degradasi ini didorong oleh kebutuhan menjaga prestasi bulu tangkis Indonesia dalam jangka panjang. Target prestasi tidak hanya difokuskan pada turnamen domestik, tetapi juga kejuaraan Asia hingga level dunia.

PBSI menilai mekanisme lama berupa pemanggilan dan pemulangan atlet setiap akhir tahun tidak lagi sejalan dengan konsep pembinaan berkelanjutan. Oleh karena itu, sistem tersebut dihapus agar komposisi atlet pelatnas dapat dikelola secara lebih dinamis tanpa bergantung pada siklus waktu tertentu.

Dorong Regenerasi dan Penyegaran Skuad Sistem degradasi yang tidak terikat periode evaluasi tahunan juga bertujuan mempercepat regenerasi atlet. Atlet muda berbakat memiliki peluang lebih besar menembus pelatnas ketika menunjukkan performa menjanjikan.

Di sisi lain, atlet yang mengalami penurunan performa tidak perlu menunggu akhir tahun untuk dievaluasi. Dengan begitu, PBSI dapat melakukan penyegaran skuad secara cepat dan memberi ruang bagi talenta baru untuk berkembang.

Transparansi dan Objektivitas Jadi Penekanan PBSI menegaskan bahwa seluruh proses evaluasi atlet dilakukan berdasarkan indikator kinerja yang terukur dan telah ditetapkan sejak awal. Hal ini bertujuan menciptakan proses pembinaan yang transparan, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keputusan promosi maupun degradasi tidak didasarkan pada penilaian subjektif, melainkan hasil konkret di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, PBSI berharap tercipta iklim pembinaan yang adil dan profesional bagi seluruh atlet.

Menyesuaikan dengan Padatnya Kalender Internasional Padatnya kalender turnamen internasional juga menjadi faktor penting di balik perubahan kebijakan ini. Atlet bulu tangkis Indonesia menghadapi banyak target sepanjang tahun, sehingga dibutuhkan sistem evaluasi yang fleksibel dan berkelanjutan.

Melalui sistem baru, atlet yang tidak mencapai target kinerja dapat langsung didegradasi tanpa menunggu evaluasi akhir tahun. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kualitas tim nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Perubahan sistem promosi dan degradasi atlet ini menandai transformasi signifikan dalam pola pembinaan bulu tangkis nasional. Evaluasi berbasis KPI sepanjang tahun, promosi melalui seleknas, serta penghapusan evaluasi tahunan menunjukkan keseriusan PBSI dalam membangun prestasi yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

Jay.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh