majalahsuaraforum.com — Upaya pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun 2026 kembali menjadi sorotan dalam rapat bersama Komisi XI DPR. Anggota Komisi XI, Harris Turino, menilai Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa perlu memperkuat strategi fiskal karena beban yang harus dicapai tahun depan sangat besar.
Harris menjelaskan bahwa kebijakan fiskal 2026 memiliki peranan utama dalam menopang pemulihan ekonomi, terlebih dengan postur anggaran yang jauh lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
“Kebijakan fiskal untuk tahun depan dengan total APBN Rp 3.800 triliun, di mana di dalamnya ada penerimaan pajak Rp 2.300 triliun. Ini angka yang cukup besar, apalagi kalau kita melihat bahwa untuk tahun ini estimasi penerimaannya hanya Rp 2.050 triliun,” kata Harris.
Ia menegaskan bahwa besarnya target tersebut otomatis menjadikan kebijakan fiskal sebagai fondasi penting dalam mencapai proyeksi ekonomi yang telah ditetapkan.
“Sehingga ini menjadi satu tantangan, dan fiskal akan digunakan sebagai salah satu penopang dari pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,4%,” imbuhnya.
Target Pajak Dianggap Belum Tercapai Optimal Harris meminta Purbaya memaksimalkan penerimaan pajak, minimal mencapai target tahun ini yang berada di kisaran Rp 2.300 triliun. Ia menilai upaya optimal belum terlihat sejak Purbaya menjabat dua bulan terakhir.
“Bahkan sampai bulan Oktober ini, dibandingkan tahun lalu, masih ada kurang sekitar 4,4% atau sekitar Rp 38 triliun. Ini menjadi PR besar bagi Pak Purbaya,” ujarnya.
Menurutnya, kekurangan penerimaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pajak harus menjadi fokus utama kementerian keuangan.
Cukai dan Penempatan Dana Negara Jadi Perhatian Selain pajak, Harris juga menyoroti proyeksi peningkatan penerimaan cukai pada tahun 2026. Pemerintah diminta memastikan realisasi cukai berjalan optimal agar kontribusinya terhadap perekonomian tetap signifikan.
Ia turut mengingatkan Purbaya untuk mengawasi penyaluran dana pemerintah senilai Rp 200 triliun ke lima bank BUMN BNI, BRI, Bank Mandiri, BTN, dan Bank Syariah Indonesia agar tujuan memperkuat likuiditas benar-benar tercapai.
“Dampaknya memang harus kita akui terjadi sedikit penurunan di suku bunga deposito. Tetapi persoalannya adalah belum tersalur ke suku bunga kredit,” katanya.
Harris menilai bahwa likuiditas yang meningkat seharusnya mendorong perluasan penyaluran kredit bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“Harapannya, dengan likuiditas bertambah, penciptaan kredit-kredit baru seharusnya meningkat,” imbuhnya.
Lan.











