majalahsuaraforum.com – Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan serius terkait menipisnya stok air minum di ibu kota Teheran. Kondisi tersebut diperkirakan bisa mencapai titik kritis dan menyebabkan kehabisan pasokan dalam waktu sekitar dua pekan ke depan. Situasi ini terjadi ketika Iran tengah menghadapi kekeringan paling parah yang pernah terjadi dalam beberapa puluh tahun terakhir.
Menurut laporan dari media resmi pemerintah, Islamic Republic News Agency (IRNA), ancaman tersebut dipicu oleh tingkat kekeringan yang luar biasa parah di sebagian besar wilayah Teheran dan sekitarnya. Akibatnya, volume air di bendungan utama yang menjadi penopang kebutuhan masyarakat menurun drastis.
Direktur Perusahaan Air Teheran, Behzad Parsa, mengungkapkan bahwa Bendungan Amir Kabir—yang merupakan salah satu dari lima bendungan utama penyedia air bagi penduduk Teheran kini hanya mampu menampung 14 juta meter kubik air.
“Itu hanya delapan persen dari kapasitasnya,” ujar Behzad.
Teheran merupakan kota besar dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa, yang letaknya berada di lereng selatan Pegunungan Alborz. Pegunungan ini selama ini menjadi sumber utama air karena salju di puncaknya akan mencair dan mengalir ke waduk-waduk di bawahnya. Namun, dalam dua tahun terakhir, kondisi tersebut berubah drastis akibat pemanasan global dan curah hujan yang anjlok hingga titik nol.
“Pada 2025 tercatat telah terjadi penurunan curah hujan 100% di wilayah Teheran,” tambahnya.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, Bendungan Amir Kabir masih memiliki cadangan sekitar 86 juta meter kubik air, sehingga penurunannya dinilai sangat drastis. Meskipun demikian, Behzad tidak menjelaskan secara rinci kondisi empat bendungan lainnya yang juga menjadi sumber pasokan air utama bagi ibu kota.
Berdasarkan data IRNA, warga Teheran setiap harinya menggunakan rata-rata tiga juta meter kubik air. Untuk menekan konsumsi dan memperpanjang ketersediaan stok, pemerintah setempat mulai melakukan langkah penghematan dengan menghentikan sementara distribusi air di sejumlah kawasan. Kebijakan ini telah diterapkan dalam beberapa hari terakhir sebagai upaya darurat menghadapi kekeringan ekstrem.
Selain kekurangan air, Iran juga tengah berhadapan dengan krisis energi. Pemadaman listrik dilaporkan kerap terjadi, terutama selama musim panas. Pada Juli dan Agustus 2025, pemerintah bahkan memutuskan untuk menetapkan dua hari libur nasional guna menekan penggunaan air dan energi di tengah gelombang panas ekstrem. Suhu udara di Teheran mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, sementara di beberapa daerah lainnya bahkan menembus 50 derajat Celsius.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan warga dan pemerintah daerah. Banyak pihak mendesak pemerintah pusat agar segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi ancaman krisis air ini, seperti memperbaiki sistem distribusi, menambah fasilitas penampungan, serta mengoptimalkan penggunaan sumber air alternatif.
Krisis air yang kini melanda Iran menjadi cerminan serius dari dampak perubahan iklim yang semakin nyata di kawasan Timur Tengah, yang selama ini memang rentan terhadap kekeringan ekstrem dan kelangkaan sumber daya air.
Red.










