majalahsuaraforum.com – 17 September 2025 Pertemuan tingkat tinggi darurat negara-negara Arab dan Muslim yang digelar di Doha, Qatar, pada Senin (15/9/2025), diharapkan mampu menyatukan sikap tegas menghadapi agresi Israel. Namun, alih-alih melahirkan keputusan konkret, forum tersebut hanya berakhir dengan kecaman politik yang dinilai bersifat simbolis.
Serangan Israel Picu Reaksi Keras KTT ini digelar menyusul serangan udara Israel pada 9 September 2025 yang menyasar kompleks pertemuan para pemimpin senior Hamas di kawasan permukiman ibu kota Qatar, Doha. Serangan tersebut mengejutkan dunia internasional karena Qatar merupakan negara berdaulat, sekutu dekat Amerika Serikat di kawasan, sekaligus mitra Israel.
Aksi Tel Aviv itu dianggap semakin memperburuk situasi keamanan regional. Negara-negara Arab menilai Israel telah dengan sengaja melewati “garis merah” untuk mengejar lawan politiknya, sementara Amerika Serikat dinilai belum mengambil langkah nyata untuk meredakan ketegangan.
Qatar dan Iran Menyampaikan Peringatan Dalam pidatonya, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani menegaskan bahwa Israel berupaya menjadikan Gaza sebagai wilayah yang tidak layak huni. Ia juga menyebut tindakan Israel sebagai bentuk pengkhianatan karena menargetkan negosiator Hamas yang masih terlibat dalam pembicaraan soal sandera.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut memperingatkan bahaya yang lebih luas dari serangan tersebut. “Serangan ke Doha membuktikan bahwa tak ada satu pun negara Arab-Muslim yang benar-benar aman dari agresi Israel,” tegasnya.
Kehadiran Pemimpin-Pemimpin Utama Pertemuan di Doha mempertemukan sejumlah tokoh penting, antara lain Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Raja Yordania Abdullah II, dan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani.
Seluruhnya mengecam keras Israel. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, bahkan menekankan bahwa pernyataan kecaman saja tidak cukup. “Harus ada sanksi tegas terhadap Israel,” ujarnya.
Kepentingan Ekonomi Hambat Langkah Nyata Sebelum konferensi, sejumlah analis memperkirakan negara-negara Arab-Muslim mungkin akan mengambil langkah berani, seperti menutup wilayah udara bagi Israel atau menurunkan hubungan diplomatik. Namun, kepentingan ekonomi dan politik membuat negara-negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan Turki enggan mengambil keputusan drastis.
Recep Tayyip Erdogan menyatakan mendukung adanya sanksi ekonomi terhadap Israel, tetapi mengingatkan agar negara-negara Teluk tidak bersikap terlalu keras.
Hasil Akhir: Simbol Tanpa Substansi Pada akhirnya, pernyataan bersama yang dikeluarkan KTT Doha hanya menyerukan langkah-langkah hukum untuk mencegah Israel melanjutkan tindakannya di Palestina, tanpa adanya agenda aksi yang jelas.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sebatas menyatakan komitmen untuk memperkuat mekanisme pertahanan bersama, tetapi tidak menghasilkan keputusan operasional. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain yang sudah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords memilih bersikap hati-hati.
Penilaian Pengamat Andrea Dessi, pakar hubungan internasional dari Universitas Roma, menilai pertemuan ini belum melahirkan hasil konkret. Meski demikian, ia menyebut KTT Doha tetap penting sebagai sinyal awal munculnya kesadaran kolektif dunia Arab-Muslim. “Pertemuan ini menandai awal dari wacana arsitektur keamanan baru di Timur Tengah, meski masih jauh dari realisasi,” ungkapnya.
Red.











