Home / Kabar Berita / Gaza Dilanda Krisis Air: Warga Terpaksa Minum Air Keruh Demi Bertahan Hidup

Gaza Dilanda Krisis Air: Warga Terpaksa Minum Air Keruh Demi Bertahan Hidup

Majalahsuaraforum.com – Krisis air bersih di Jalur Gaza kian mengkhawatirkan setelah hampir dua tahun konflik yang tak kunjung berakhir. Setiap hari, ribuan warga harus berjuang mendapatkan air, meski hanya sedikit dan dalam kondisi keruh. Situasi ini menggambarkan betapa sulitnya kehidupan masyarakat yang terjebak di wilayah tersebut.

Hidup dengan Air yang Tidak Layak

Rana Odeh, seorang pengungsi asal Khan Younis yang kini tinggal di kamp pengungsian Muwasi, hanya bisa membawa pulang kendi berisi air kotor. Meski tahu bahwa air itu terkontaminasi, ia tetap memberikannya kepada anak-anaknya karena tidak ada pilihan lain.
“Kami terpaksa memberikannya kepada anak-anak karena tidak punya alternatif lain. Air itu membuat kami sakit,” tutur Odeh dengan nada pasrah.

Pemandangan serupa terjadi setiap kali truk tangki air tiba di Muwasi, dua hingga tiga hari sekali. Anak-anak dan orang dewasa berlari membawa botol, ember, hingga jeriken, lalu mengangkutnya menggunakan gerobak atau ditarik dengan keledai. Setiap tetes air sangat berharga karena harus dibagi untuk kebutuhan minum, memasak, dan menjaga kebersihan dasar.

Sebagian warga bahkan terpaksa mengambil air langsung dari laut ketika pasokan tidak datang, meski berisiko tinggi bagi kesehatan.

Infrastruktur Air Hancur dan Terbatas

Krisis ini diperparah dengan kerusakan infrastruktur akibat perang berkepanjangan. Pabrik desalinasi berhenti beroperasi karena pasokan listrik dan bahan bakar terhenti, sementara banyak pipa transmisi hancur. Sumber air bawah tanah pun sudah terkontaminasi oleh limbah serta puing bangunan yang berserakan.

Sebelum konflik, Gaza masih bisa mengandalkan pabrik desalinasi, sumur dengan air payau, impor air kemasan, serta jaringan pipa dari perusahaan air Israel, Mekorot. Namun kini, rata-rata warga hanya memperoleh tiga liter air per hari, jauh dari standar minimum kebutuhan dasar 15 liter per orang per hari.

Dari 392 sumur yang ada di Gaza, hanya 137 yang masih bisa digunakan, namun sebagian besar sudah tercemar. Satu pabrik desalinasi juga hancur akibat serangan.

Israel sempat kembali membuka aliran air melalui pipa Mekorot serta menyalurkan listrik ke salah satu pabrik desalinasi. Namun kapasitas produksi masih sangat rendah dibandingkan kebutuhan sebelum perang. Karena keterbatasan, perusahaan air lokal terpaksa mendahulukan pasokan ke rumah sakit, meskipun harus mengorbankan sistem pengolahan limbah.

“Jelas, Anda bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa makanan, tapi tidak tanpa air,” ujar Monther Shoblaq, Kepala Dinas Air Kota Pesisir Gaza.

Dampak Kesehatan Mengancam Anak-anak

Situasi darurat air bersih telah menyebabkan peningkatan kasus penyakit menular. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mencatat rata-rata 10.300 pasien setiap minggu, sebagian besar anak-anak yang menderita diare akibat air tercemar.

UNICEF juga melaporkan lonjakan signifikan kasus diare berair akut dari 20% pada Februari menjadi 44% pada Juli. Kondisi ini membuat banyak anak menghadapi risiko dehidrasi parah.

“Di luar tenda panas, di dalam juga panas. Kami terpaksa minum air ini di mana pun kami berada,” kata Mahmoud Al-Dibs, seorang pengungsi dari Kota Gaza.

Ancaman Krisis Berkepanjangan

Meski ada sedikit perbaikan melalui aliran kembali pipa air dan listrik untuk sebagian fasilitas, organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa krisis ini bisa semakin buruk apabila Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah pengungsian padat, termasuk Muwasi.

Saat ini, bagi warga Gaza yang hanya bisa menggantungkan hidup pada jeriken berisi air keruh, setiap tegukan menjadi pilihan pahit: mengusir dahaga, tetapi sekaligus mengundang penyakit.

 

Pen. Red. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh