Majalahsuaraforum.com – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, menegaskan komitmennya untuk menindak tegas segala bentuk penyimpangan di tubuh polisi lalu lintas. Fokus utama Korlantas saat ini adalah pemberantasan praktik pungutan liar (pungli) dan penyalahgunaan wewenang oleh oknum.
“Buat apa jadi polisi kalau hanya membuat pusing masyarakat,” tegas Irjen Agus dalam keterangannya, Kamis (31/7/2025).
Untuk itu, Korlantas tidak hanya melakukan tindakan terhadap anggota yang terbukti menyimpang, tetapi juga memperkuat sistem pengawasan internal yang lebih ketat dan transparan.
Budaya Tertib Berlalu Lintas
Agus menekankan bahwa keselamatan di jalan tidak cukup hanya ditegakkan melalui penegakan hukum semata, tetapi juga harus dibudayakan.
“Korlantas terus mendorong nilai-nilai etika berlalu lintas sebagai bagian dari kepribadian bangsa,” ujarnya.
Dalam upaya membangun budaya tertib berlalu lintas, Korlantas aktif menggandeng komunitas otomotif dan generasi muda untuk terlibat dalam berbagai kampanye edukatif. Program-program ini bertujuan membentuk perilaku berlalu lintas yang aman, tertib, dan berkarakter.
Polantas Kini Lebih Humanis
Selama enam bulan kepemimpinan Irjen Agus, publik mulai merasakan perubahan signifikan. Polisi lalu lintas kini hadir dengan pendekatan yang lebih humanis, edukatif, serta terbuka terhadap kritik dan aspirasi masyarakat.
Program seperti “Polantas Menyapa” dan “Senyum Polisi adalah Marka Utama Lalu Lintas” menjadi simbol dari transformasi pendekatan Korlantas yang kini menempatkan polisi sebagai mitra masyarakat di jalan, bukan sekadar penegak hukum.
“Polantas hari ini bukan hanya menilang, tetapi juga mendengar dan mendidik. Kami ingin kehadiran polisi lalu lintas memberi rasa aman, bukan rasa takut,” kata Agus.
Tingkatkan Kepercayaan Publik
Dengan langkah-langkah tegas dan pembenahan sistemik ini, Korlantas berharap dapat meningkatkan kembali kepercayaan publik terhadap institusi polisi lalu lintas. Irjen Agus meyakini, perubahan ini akan membawa Indonesia menuju sistem transportasi yang lebih manusiawi, adil, dan berkeadaban.
Pen. Hil.











