Majalahsuaraforum.com – Pemerintah Iran melaporkan Israel ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas dugaan pelanggaran hukum internasional yang terjadi selama konflik bersenjata selama hampir dua pekan pada bulan Juni lalu.
Dalam pengaduannya, Iran menyerahkan dokumen panjang kepada Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden Dewan Keamanan Asim Iftikhar Ahmad. Dokumen tersebut merinci serangkaian tindakan militer Israel yang diklaim sebagai kejahatan perang, termasuk serangan terhadap penduduk sipil, perempuan, dan anak-anak.
“Dokumen ini menyampaikan secara terperinci skala kejahatan yang dilakukan Israel, yang mengakibatkan penderitaan besar bagi rakyat Iran serta menghancurkan infrastruktur penting,” ungkap pernyataan resmi dari perwakilan tetap Iran untuk PBB, dikutip dari kantor berita Antara.
Serangan militer yang dimulai pada 13 Juni 2025, menurut Iran, telah menewaskan sekitar 1.100 orang, termasuk di antaranya 132 perempuan dan 45 anak-anak. Target dari serangan tersebut disebut bukan hanya objek militer, melainkan juga berbagai fasilitas sipil seperti rumah sakit anak, sekolah TK, taman, kantor pers, hingga ambulans dan penjara.
Salah satu insiden paling mematikan dilaporkan terjadi di Rumah Sakit Anak Hakim, di mana puluhan tenaga medis dan pasien meninggal dunia akibat ledakan.
Iran juga menuduh bahwa tindakan militer Israel didukung secara politis dan logistik oleh negara-negara besar. Dalam dokumen tersebut, Iran menegaskan bahwa tindakan Israel bertentangan dengan Piagam PBB, Konvensi Jenewa, serta norma-norma hak asasi manusia internasional.
Selain kepada Dewan Keamanan, laporan itu turut disampaikan kepada UNICEF dan Perwakilan Khusus PBB untuk Urusan Anak dalam Konflik Bersenjata sebagai bentuk seruan untuk melindungi anak-anak yang terdampak langsung dari konflik tersebut.
Dalam pernyataan penutupnya, Iran meminta agar Dewan Keamanan menghentikan impunitas terhadap Israel dan para pendukungnya, serta mengambil langkah nyata untuk menindak pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pen. Red.











