Majalahsuaraforum.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengurangi ketergantungan negara pada impor energi. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar di sektor energi, mulai dari ketidakmerataan akses energi, tingginya ketergantungan pada impor, hingga target ambisius untuk energi terbarukan dan emisi nol bersih (net zero emission).
“Ketergantungan kita pada impor energi cukup tinggi. Ini menjadi perhatian utama karena menyangkut ketahanan energi nasional ke depan,” ujar Yuliot dalam keterangan resminya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kementerian ESDM telah merancang beberapa strategi prioritas. Salah satunya adalah meningkatkan produksi minyak dan gas nasional dengan target lifting minyak mencapai 1 juta barel per hari pada 2030. Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi impor minyak mentah dan BBM yang selama ini membebani neraca perdagangan energi.
Selain itu, pemerintah juga akan memperluas pasokan listrik di berbagai wilayah dengan menambah pembangkit listrik dan jaringan transmisi guna memastikan akses energi yang merata. Percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) juga menjadi fokus utama, termasuk melalui pembangunan PLTS, PLTB, dan proyek-proyek geothermal.
“Program biodiesel juga terus didorong, bukan hanya untuk meningkatkan ketahanan energi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat,” tambah Yuliot.
Dengan berbagai strategi tersebut, pemerintah berharap dapat membangun ketahanan energi yang lebih kuat, mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus memperkuat fondasi transisi energi menuju penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.
Pen. Lan.











