Home / Hukum - Kriminal / Kuasa Hukum Bharada Valdo Minta Rekaman CCTV Kasus Polisi Tembak Polisi di Pondok Cabe Dibuka

Kuasa Hukum Bharada Valdo Minta Rekaman CCTV Kasus Polisi Tembak Polisi di Pondok Cabe Dibuka

foto istimewa

majalahsuaraforum.com – Tim kuasa hukum Bharada Laurentius Valdo Fernandez Lawai mendesak penyidik membuka rekaman kamera pengawas atau CCTV terkait kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan kliennya meninggal dunia di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Mereka meminta bukti visual tersebut ditampilkan secara transparan serta menjalani pemeriksaan laboratorium forensik untuk memastikan keasliannya.

Ketua Tim Kuasa Hukum Bharada Valdo, Ardy Mbalembout, menegaskan bahwa proses penyidikan harus mengutamakan pembuktian tindak pidana. Menurutnya, pengungkapan perkara tidak cukup hanya berfokus pada motif atau dugaan perundungan yang disebut-sebut berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Ardy menilai penyidik perlu menguraikan secara jelas bagaimana dugaan kekerasan yang berujung pada kematian Bharada Valdo dapat terjadi. Ia meminta seluruh rangkaian peristiwa diungkap berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Kita tidak bisa menerima mentah-mentah. Pertanyaan kami sekarang bukan motifnya, fokusnya adalah dugaan penganiayaan sampai mengakibatkan kematian itu, bagaimana caranya?,” katanya kepada wartawan, Senin (19/10/2026).

Selain mempertanyakan kronologi kejadian, Ardy turut menyoroti informasi mengenai kondisi jenazah korban yang beredar di masyarakat. Informasi tersebut mencakup dugaan adanya luka tembak di bagian belakang tubuh serta luka akibat senjata tajam.

Ia mempertanyakan apakah berbagai bentuk kekerasan tersebut dilakukan oleh satu orang atau melibatkan lebih dari satu pelaku. Menurutnya, persoalan itu harus dijawab melalui pemeriksaan medis dan penyelidikan berbasis bukti ilmiah.

“Apakah satu orang bisa melakukan tiga hal sekaligus, kekerasan benda tumpul, senjata tajam, hingga senjata api? Apakah pelaku psikopat jika melakukan itu sendirian? Ini yang harus dibuktikan secara ilmiah melalui hasil autopsi dan bukti-bukti di lapangan,” ujarnya.

Ardy menegaskan bahwa hasil autopsi, bukti fisik di tempat kejadian perkara (TKP), serta hasil pemeriksaan lainnya perlu dicocokkan untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut. Ia berharap penyidik tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan asumsi, melainkan melalui proses pembuktian yang objektif.

Kuasa Hukum Minta Rekaman CCTV Diperlihatkan

Salah satu langkah yang didesak tim kuasa hukum adalah membuka rekaman CCTV di lokasi kejadian. Ardy berpendapat bahwa keberadaan kamera pengawas di lingkungan institusi tempat peristiwa berlangsung perlu ditelusuri untuk membantu mengungkap kronologi kejadian.

Ia meminta rekaman tersebut diperlihatkan kepada pihak kuasa hukum dan diperiksa secara menyeluruh. Pemeriksaan itu, menurutnya, diperlukan untuk memastikan bahwa rekaman benar-benar autentik serta tidak mengalami pemotongan atau perubahan yang dapat memengaruhi penafsiran peristiwa.

“Kejadian kan di dalam institusi itu, pasti ada ada CCTV, nah kita lihat aja, sekarang kita minta tunjukkan CCTV-nya, CCTV kayak master (Ferdy) Sambo dulu kejadian juga bisa rekayasa, kita tes lab apakah ada dilompatin itu, itu harus transparan, di situ baru kita percaya,” ucapnya.

Ardy menyebut bahwa dalam pertemuan awal, penyidik telah mengonfirmasi bahwa rekaman CCTV di lokasi kejadian sudah diamankan. Namun, ia mengatakan bahwa rekaman tersebut belum diperlihatkan secara langsung kepada tim kuasa hukum.

Atas dasar itu, pihaknya meminta agar rekaman CCTV menjalani pemeriksaan laboratorium untuk menguji keasliannya. Pemeriksaan tersebut juga diharapkan dapat mengidentifikasi kemungkinan adanya bagian rekaman yang terputus, dihilangkan, atau disunting.

Menurut tim kuasa hukum, keterbukaan terhadap bukti CCTV menjadi salah satu hal penting dalam memastikan penanganan perkara berjalan secara profesional. Rekaman yang telah diperiksa secara teknis diharapkan dapat membantu penyidik menyusun kronologi kejadian sekaligus menguji kesesuaian keterangan dengan bukti lain yang ditemukan di lapangan.

Akan Bersurat kepada Kapolri

Selain mendesak pembukaan rekaman CCTV, tim kuasa hukum Bharada Valdo berencana mengirimkan surat kepada Kapolri untuk meminta perlindungan hukum dan pengawasan terhadap proses penanganan perkara.

Ardy berharap pimpinan Polri memberikan perhatian terhadap jalannya penyidikan sehingga seluruh tahapan pemeriksaan dapat berlangsung secara transparan dan profesional. Ia juga meminta agar penyidik bekerja berdasarkan alat bukti dan tidak dipengaruhi dugaan yang belum terbukti.

“Kami akan buat surat kepada Pak Kapolri untuk perlindungan hukum dan memantau kasus ini, agar jajaran penyidik di bawahnya bekerja transparan serta profesional tanpa ada asumsi atau rekayasa,” kata Ardy.

Langkah tersebut, menurut pihak kuasa hukum, dilakukan agar pengungkapan kasus dapat berjalan secara objektif dan seluruh fakta yang berkaitan dengan kematian Bharada Valdo dapat diketahui.

Sementara itu, keluarga korban tengah menjalani proses pemakaman. Tim kuasa hukum menyatakan akan terus mengawal perkembangan penyidikan kasus dugaan penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya Bharada Valdo hingga fakta hukum terungkap.

Pihak kuasa hukum berharap pemeriksaan bukti-bukti, termasuk rekaman CCTV, hasil autopsi, serta keterangan para pihak yang berkaitan dengan perkara, dapat memberikan kejelasan mengenai kronologi dan pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Hingga seluruh proses pembuktian dilakukan, berbagai dugaan yang disampaikan pihak kuasa hukum tetap perlu diuji melalui penyidikan dan mekanisme hukum yang berlaku. Transparansi penanganan perkara diharapkan dapat membantu mengungkap fakta secara menyeluruh sekaligus memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban.

 

hil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *