Catatan: Hilda Dewita
Wartawan Senior
majalahsuaraforum.com-Di tubuh TNI, pangkat bintang empat bukan garis akhir bagi seorang jenderal. Selalu ada satu kursi yang membuat perjalanan karier seorang perwira mencapai babak paling menentukan yakni Panglima TNI.
Kini, nama Jenderal TNI Maruli Simanjuntak ikut berembus dalam bursa calon pengisi posisi tersebut. Belum ada kepastian, tetapi rekam jejaknya membuat kabar ini menarik dicermati. Apakah perjalanan panjangnya dari pasukan khusus, Kostrad, hingga Kepala Staf Angkatan Darat akan membawanya ke puncak komando militer Indonesia?
Maruli lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 27 Februari 1970. Ia merupakan lulusan Akademi Militer 1992, generasi perwira yang meniti karier jauh sebelum namanya dikenal luas di panggung nasional.
Berasal dari kecabangan infanteri, ia ditempa di lingkungan Kopassus dan Detasemen Tempur Cakra. Lingkungan yang menuntut disiplin, ketahanan, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu mudah.
Kariernya bergerak melalui sejumlah penugasan penting. Ia pernah menjabat Komandan Grup A Paspampres, Komandan Korem 074/Warastratama, Kasdam IV/Diponegoro, Pangdam IX/Udayana, hingga Panglima Kostrad. Pada 29 November 2023, Maruli dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Rentang jabatan itu memperlihatkan perjalanan bertahap dari komando satuan menuju tanggung jawab yang lebih besar di lingkungan TNI AD.
Tentu, daftar jabatan tidak otomatis menjawab seluruh pertanyaan tentang seorang calon pemimpin. Namun, pengalaman memimpin pasukan, mengelola satuan besar, dan kini memimpin Angkatan Darat menjadi bagian penting dari rekam jejak yang patut diperhitungkan. Sebab, semakin tinggi jabatan yang diemban, semakin luas pula persoalan yang harus dihadapi. Ketegasan di lapangan saja tidak cukup, ada organisasi, sumber daya, kesiapan pertahanan, dan koordinasi yang harus berjalan beriringan.
Nama Maruli belakangan ikut menjadi perbincangan dalam bursa calon Panglima TNI. Ia menanggapi kabar tersebut dengan menyebut bahwa seluruh kepala staf angkatan juga berpeluang menjadi calon. Pernyataan itu bukan konfirmasi pencalonan.
Pemerintah pun, menurut keterangan Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto pada 8 Oktober 2026, belum mengirim surat presiden terkait pergantian Panglima TNI ke DPR. Dengan demikian, isu yang beredar masih perlu dibedakan dari proses resmi pergantian jabatan.
Namun, ada pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar siapa yang akan menduduki kursi tersebut. Panglima TNI memimpin tiga matra dengan karakter, kebutuhan, dan tantangan berbeda. Jabatan itu menuntut kemampuan menjaga soliditas organisasi, memperkuat kesiapan pertahanan, mengawal modernisasi alutsista, serta memastikan profesionalisme TNI tetap berada dalam koridor konstitusi. Siapa pun yang terpilih akan membawa tanggung jawab yang jauh melampaui pencapaian karier pribadi.
Bagi Maruli, jika kesempatan itu benar-benar datang, ia akan memasuki babak baru dalam perjalanan pengabdiannya.
Rekam jejaknya sudah terbentuk melalui berbagai penugasan dan jabatan strategis. Tetapi menjadi KSAD dan menjadi Panglima TNI bukanlah pekerjaan yang persis sama. Yang pertama memimpin satu matra; yang kedua menuntut kepemimpinan lintas matra dengan cakupan tanggung jawab pertahanan yang lebih luas.
Untuk saat ini, belum ada alasan untuk mendahului keputusan Presiden. Nama Maruli boleh diperbincangkan, tetapi keputusan akhir tetap harus menunggu mekanisme resmi.
Meski begitu, perjalanan kariernya menunjukkan mengapa namanya masuk dalam percakapan tersebut. Sebab, dalam dunia militer, jalan menuju puncak tidak dibangun hanya oleh satu momentum. Ia terbentuk dari rangkaian penugasan, tanggung jawab, dan kesempatan yang datang pada waktunya.
Jika kursi Panglima TNI kelak menjadi babak berikutnya bagi Maruli, publik tentu akan menunggu bukan hanya siapa yang terpilih, tetapi juga arah kepemimpinan yang akan dibawanya.









