majalahsuaraforum.com – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami peningkatan. Kondisi tersebut menyebabkan abu vulkanis terbawa angin dan mengguyur sejumlah wilayah di Lampung Selatan hingga Sabtu (5/9/2026) siang.
Sedikitnya empat kecamatan terdampak hujan abu vulkanis, yakni Bakauheni, Penengahan, Kalianda, dan Rajabasa. Abu juga dilaporkan mencapai Pulau Sebesi yang berada di kawasan tersebut.
Material vulkanis telah turun selama sekitar tiga hari terakhir. Kondisi ini mulai dirasakan warga karena mengganggu aktivitas sehari-hari. Paparan abu juga menyebabkan sejumlah masyarakat mengalami gangguan kesehatan, antara lain sesak napas dan iritasi pada mata.
Pulau Sebesi menjadi salah satu wilayah yang cukup terdampak. Abu vulkanis bahkan masuk ke sejumlah rumah warga dan menempel pada perabotan. Akibatnya, masyarakat harus lebih sering membersihkan rumah dari endapan abu.
Selain masuk ke permukiman, partikel abu yang terbawa angin juga membuat warga mengalami keluhan pernapasan dan iritasi mata. Kondisi tersebut semakin terasa ketika arah angin membawa abu dari Gunung Anak Krakatau menuju wilayah permukiman.
Pemkab Siagakan Tenaga Kesehatan dan Masker Menghadapi dampak erupsi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan telah menyiagakan tenaga kesehatan dari puskesmas, khususnya di wilayah yang dinilai paling terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Dinas Kesehatan Lampung Selatan juga melakukan pembagian masker kepada masyarakat. Sebanyak 1.500 masker disalurkan di kawasan Dermaga Canti dan sekitarnya, sementara 3.000 masker lainnya diberikan kepada warga Pulau Sebesi.
Pemkab Lampung Selatan mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker serta kacamata ketika harus beraktivitas di luar rumah. Warga juga diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti bayi, lanjut usia, dan ibu hamil.
Masyarakat juga diminta menjaga makanan dan air minum dengan menutupnya secara rapat. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah makanan maupun air terkontaminasi abu vulkanis yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Rajabasa, Suwarno, mengatakan gunung api tersebut masih berada pada status Level III atau Siaga.
“Dengan status siaga, masyarakat maupun wisatawan tidak diizinkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif,” kata Suwarno, Sabtu (5/9/2026).
Peningkatan aktivitas vulkanik mulai terlihat sejak Jumat (4/9/2026) malam dan berlanjut hingga Sabtu pagi. Berdasarkan laporan Magma Indonesia Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sedikitnya terdapat 10 kali erupsi yang tercatat dalam dua hari terakhir.
Erupsi menerus dilaporkan berlangsung sejak Jumat sekitar pukul 23.07 WIB hingga periode pengamatan pada Sabtu pukul 00.00-06.00 WIB. Aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur.
Erupsi juga disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Pasauran. Sementara itu, kamera pemantau atau CCTV di lapangan dilaporkan mengalami kondisi mati atau offline setelah terkena lontaran material vulkanik.
Rangkaian Erupsi Terjadi Sejak Jumat Malam Sebelum memasuki fase erupsi menerus, Gunung Anak Krakatau telah mengalami beberapa kali letusan pada Jumat malam. Aktivitas erupsi tercatat masing-masing pada pukul 22.03 WIB, 22.11 WIB, 22.42 WIB, 22.53 WIB, hingga pukul 23.07 WIB yang kemudian terus berlangsung sampai Sabtu pagi.
Erupsi pertama yang tercatat pada pukul 22.03 WIB memiliki amplitudo maksimum 19 milimeter dengan durasi 29 detik. Selang beberapa menit kemudian, erupsi pada pukul 22.11 WIB memiliki amplitudo maksimum 70 milimeter dan berlangsung selama 40 detik.
Aktivitas kembali tercatat pada pukul 22.42 WIB dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 56 detik. Kemudian pada pukul 22.53 WIB, erupsi kembali terekam dengan amplitudo maksimum 70 milimeter selama 40 detik.
Aktivitas tersebut kemudian berlanjut pada pukul 23.07 WIB. Pada saat itu, visual letusan tidak teramati, tetapi erupsi masih berlangsung ketika laporan pengamatan dibuat.
Pada Jumat pagi, erupsi Gunung Anak Krakatau juga menghasilkan kolom abu yang mencapai sekitar 300 meter di atas puncak gunung atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu tampak berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak menuju arah barat serta barat laut.
Aktivitas tersebut terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 27 detik. Erupsi berikutnya kemudian tercatat pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB dengan amplitudo maksimum masing-masing 33, 60, dan 70 milimeter.
Kondisi Gunung dan Cuaca di Sekitar Kawah Berdasarkan hasil pengamatan pada Sabtu dini hari hingga pagi, Gunung Anak Krakatau terlihat dengan tingkat kejelasan yang berubah-ubah, mulai dari jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat 0-III. Pada periode tersebut, asap kawah tidak teramati.
Kondisi cuaca di sekitar gunung api dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang menuju arah barat laut. Suhu udara tercatat berada pada kisaran 26,5-27,1 derajat Celsius, sementara tingkat kelembapan mencapai 75-78 persen.
Suwarno menjelaskan status Siaga menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperketat aktivitas masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh lontaran material vulkanik.
“Kondisi erupsi seperti ini diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur. Dengan kondisi tersebut pemerintah memperketat bagi pemerintah untuk memperketat aktivitas masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau,” ujarnya.
Gunung Anak Krakatau yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tersebut memiliki ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut.
Peningkatan aktivitas erupsi menjadi perhatian karena lokasi Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda. Wilayah tersebut merupakan jalur aktivitas masyarakat sekaligus lintasan pelayaran antarpulau yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa.
Red.











