majalahsuaraforum.com – Harga minyak mentah dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Jumat (17/7/2026) setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meningkat. Eskalasi konflik di kawasan Teluk memicu kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global, terutama dengan munculnya ancaman terhadap jalur ekspor minyak di kawasan Laut Merah.
Pada perdagangan terbaru, minyak mentah Brent mengalami kenaikan sebesar 7 sen atau 0,08 persen sehingga diperdagangkan di level US$ 84,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik 16 sen atau 0,2 persen menjadi US$ 79,11 per barel.
Sepanjang pekan ini, kedua acuan harga minyak tersebut telah mencatat lonjakan hampir 12 persen. Brent bahkan berada di jalur penguatan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sedangkan WTI berpotensi membukukan kenaikan mingguan kedua secara beruntun.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai ancaman terhadap kelancaran distribusi minyak melalui Laut Merah semakin memperbesar tekanan terhadap pasar energi internasional.
Menurutnya, kondisi pasar saat ini dibayangi dua risiko besar yang membuat harga minyak tetap memperoleh dukungan dari faktor geopolitik.
“Risiko ganda tersebut membuat faktor geopolitik terus menjadi penopang harga minyak Brent maupun WTI,” kata Tim Waterer, dikutip dari Reuters.
Situasi memanas setelah Amerika Serikat melancarkan dua gelombang serangan udara dalam sehari pada Rabu (15/7/2026). Serangan tersebut sebagian besar menyasar wilayah di sekitar pesisir selatan Iran dan kembali dilanjutkan pada Kamis (16/7/2026).
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Qatar menyampaikan bahwa pihaknya berhasil menggagalkan serangan rudal yang diluncurkan Iran pada Jumat dini hari. Meski demikian, Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan seorang anak mengalami luka akibat serpihan yang berasal dari proses pencegatan rudal tersebut.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengingatkan bahwa stabilitas pasokan minyak dunia masih menghadapi ancaman serius selama konflik belum mereda.
“Keamanan minyak masih menjadi isu yang sangat krusial. Kita harus khawatir apabila situasi ini tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan,” kata Birol.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.
Red.











