Home / Kabar Berita / Konflik AS-Iran Picu Krisis Energi, China Ambil Peran Strategis di Asia Tenggara

Konflik AS-Iran Picu Krisis Energi, China Ambil Peran Strategis di Asia Tenggara

Foto. Ist

majalahsuaraforum.com – Ketegangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berlangsung selama beberapa pekan telah mengganggu distribusi minyak dan gas global, khususnya melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuat negara-negara di Asia Tenggara menghadapi tekanan besar dalam menjaga kestabilan pasokan energi untuk berbagai sektor.

Di tengah situasi tersebut, China berupaya memanfaatkan momentum dengan menawarkan kerja sama kepada negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam mengatasi krisis energi.

“Cina bersedia memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara untuk bersama-sama mengatasi masalah keamanan energi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lin Jian, dalam konferensi pers pekan lalu.

Dampak Meluas di Asia Tenggara Lonjakan harga energi mulai dirasakan secara luas di kawasan Asia Tenggara. Berbagai negara mengambil langkah cepat, mulai dari pemberian subsidi hingga mencari alternatif pasokan energi.

Filipina pada 24 Maret 2026 menetapkan status darurat energi nasional selama satu tahun. Pemerintah di Manila juga menerapkan sistem kerja empat hari bagi instansi pemerintah serta membatasi penggunaan energi.

Selain itu, Filipina menyalurkan bantuan tunai kepada pekerja sektor transportasi dan memperingatkan adanya potensi gangguan operasional penerbangan akibat keterbatasan bahan bakar.

Sementara itu, Vietnam memanfaatkan dana stabilisasi harga energi serta meminta maskapai bersiap menghadapi pengurangan operasional. Importir bahkan mengingatkan bahwa pasokan bahan bakar pesawat diperkirakan hanya aman hingga Maret 2026.

Indonesia berupaya menahan dampak melalui peningkatan subsidi energi, sementara Thailand mempertimbangkan tambahan bantuan bagi sektor terdampak seperti perikanan. Di sisi lain, Malaysia juga meningkatkan subsidi untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar.

Negara-negara di kawasan ini juga mulai mencari pasokan energi dari luar Timur Tengah. Bahkan, Asia diperkirakan mengimpor bahan bakar dari Rusia dalam jumlah besar, dengan Asia Tenggara menjadi salah satu tujuan utama.

Strategi China di Tengah Krisis Dalam situasi krisis ini, China berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan stabilisator yang mendorong penyelesaian damai sekaligus menawarkan solusi kerja sama energi.

Menurut Li Mingjiang dari S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, China ingin menunjukkan diri sebagai aktor yang bertanggung jawab dengan menyerukan deeskalasi konflik serta menawarkan bantuan kepada negara-negara Asia Tenggara.

Sikap China juga dinilai sejalan dengan pendekatan negara-negara Asia Tenggara yang lebih mengedepankan diplomasi dalam menyikapi konflik dengan Iran. China turut mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz, namun tetap berhati-hati agar tidak terlibat langsung dalam konflik.

“Sejauh ini, respons publik Cina adalah menyerukan penahanan diri, gencatan senjata, dan dialog; ini merupakan titik temu bagi sebagian besar pemerintah di Asia Tenggara,” kata Chin-Hao Huang dari Lee Kuan Yew School of Public Policy.

Citra Amerika Serikat dan Dampak Politik Di sisi lain, intervensi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel dinilai kurang populer di sejumlah negara Asia Tenggara. Hal ini memperkuat narasi China sebagai kekuatan yang lebih mendukung stabilitas dan perdamaian global.

“Intervensi militer AS-Israel di Iran sangat tidak populer di sejumlah negara Asia Tenggara. Cina bahkan tidak perlu melakukan apa pun agar citra AS semakin memburuk di kawasan,” kata Enze Han dari University of Hong Kong.

“Lonjakan harga gas di banyak negara juga memperburuk citra Amerika Serikat. Sekali lagi, Beijing tidak perlu melakukan apa pun agar kesalahan diarahkan ke AS,” tambahnya.

Namun demikian, ketergantungan terhadap China juga bukan tanpa risiko. Negara tersebut diketahui membatasi ekspor bahan bakar demi menjaga kebutuhan domestiknya, sehingga beberapa negara seperti Kamboja harus mencari pemasok alternatif.

Peluang Transisi Energi Terbarukan Dalam jangka panjang, krisis ini dapat mendorong percepatan transisi menuju energi terbarukan di Asia Tenggara. Ketergantungan pada minyak dari Timur Tengah kini menjadi perhatian utama.

China sendiri berada dalam posisi menguntungkan dalam sektor ini, mengingat perannya sebagai investor utama dalam industri kendaraan listrik, baterai, serta proyek energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air dan tenaga surya di kawasan.

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, menyatakan bahwa China dapat memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara negara-negara ASEAN dan China dalam pengembangan energi terbarukan serta jaringan listrik regional.

Krisis akibat konflik Iran ini dinilai tidak hanya berdampak jangka pendek terhadap pasokan energi, tetapi juga berpotensi mengubah arah kebijakan energi Asia Tenggara di masa depan, dengan China sebagai salah satu pihak yang diuntungkan dari perubahan tersebut.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh