Home / Kabar Berita / Putin Ancam Balasan Keras Jika Amerika Serikat Lanjutkan Uji Coba Nuklir

Putin Ancam Balasan Keras Jika Amerika Serikat Lanjutkan Uji Coba Nuklir

majalahsuaraforum.com – Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam jika Amerika Serikat (AS) tetap melanjutkan rencana uji coba senjata nuklir. Peringatan tersebut disampaikan Putin menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berencana menghidupkan kembali program uji coba nuklir yang telah dihentikan sejak tahun 1992.

Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan Rusia, Putin menekankan bahwa Rusia memiliki kewajiban untuk mengambil langkah tegas apabila AS atau negara lain yang menandatangani Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT) tetap melanggar perjanjian tersebut.

“Jika AS atau negara penandatangan Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT) atau Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif melakukan uji coba senjata nuklir, maka Rusia wajib mengambil tindakan balasan,” ujar Putin, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (6/11/2025).

Menanggapi potensi pelanggaran perjanjian tersebut, Putin dikabarkan telah memerintahkan sejumlah pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, serta lembaga keamanan dan sipil Rusia untuk menyusun langkah-langkah konkret, termasuk kemungkinan dimulainya kembali uji coba senjata nuklir di negaranya. Diketahui, Rusia terakhir kali melaksanakan uji coba nuklir pada tahun 1991.

“Sehubungan dengan hal ini saya menginstruksikan untuk melakukan segala upaya untuk mengumpulkan informasi tambahan mengenai masalah ini, lalu menganalisisnya di Dewan Keamanan. Selanjutnya, mengajukan proposal terkoordinasi mengenai langkah-langkah awal yang mungkin dilakukan dengan fokus pada persiapan uji coba senjata nuklir,” tegas Putin.

Situasi hubungan diplomatik antara Moskow dan Washington dalam beberapa pekan terakhir memang semakin memanas. Ketegangan meningkat seiring meningkatnya frustrasi Trump terhadap Putin yang dinilai gagal menghentikan perang di Ukraina. Konflik tersebut juga diperparah dengan keputusan Trump untuk membatalkan pertemuan bilateral dengan Putin di Hungaria pada Oktober 2025.

Sebelumnya, pada 30 Oktober 2025, Trump menyampaikan perintah langsung kepada Departemen Pertahanan AS (Pentagon) untuk segera melanjutkan uji coba nuklir. Menurutnya, langkah itu perlu dilakukan demi menjaga “keseimbangan kekuatan” dengan negara-negara lain yang memiliki persenjataan nuklir. Keputusan itu muncul tak lama setelah Trump menuding Rusia telah melakukan uji coba terhadap rudal Burevestnik, rudal bertenaga nuklir yang diklaim mampu membawa hulu ledak antar benua.

Rusia dan Amerika Serikat selama ini dikenal sebagai dua negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Center for Arms Control and Non-Proliferation (CACNP), Rusia diperkirakan memiliki sekitar 5.459 hulu ledak nuklir, dengan 1.600 di antaranya berstatus aktif. Sementara AS memiliki 5.550 hulu ledak nuklir, di mana 3.800 di antaranya aktif dan siap digunakan.

Sebagai perbandingan, pada masa Perang Dingin di pertengahan 1960-an, AS pernah memiliki lebih dari 31.000 hulu ledak nuklir aktif dan nonaktif, menjadikannya negara dengan persenjataan nuklir terbesar dalam sejarah.

Para pengamat menilai bahwa ancaman dan tindakan saling menantang antara dua negara adidaya tersebut berpotensi menghidupkan kembali perlombaan senjata nuklir yang pernah mendominasi geopolitik global beberapa dekade lalu. Jika kedua negara benar-benar melanjutkan uji coba nuklir, hal itu dikhawatirkan akan mengguncang stabilitas keamanan dunia serta mengancam keberlanjutan CTBT, perjanjian internasional yang bertujuan menghapuskan uji coba senjata nuklir di seluruh dunia.

Red.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh