majalahsuaraforum.com-Seiring validasi organisasi TNI yang menetapkan enam Komando Daerah Militer (Kodam) baru, Mayjen TNI Kristomei Sianturi resmi dilantik sebagai Panglima Kodam XXI/Radin Inten. Pelantikan tersebut berlangsung pada Minggu (10/8/2025) di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus) Komando Pasukan Khusus, Batujajar, Bandung. Upacara dilaksanakan bersamaan dengan gelar pasukan operasional dan penghormatan militer.
Enam Kodam yang dibentuk dalam validasi kali ini meliputi Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kodam XXI/Radin Inten, Kodam XXII/Tambun Bungai, Kodam XXIII/Palaka Wira, dan Kodam XXIV/Mandala Trikora. Kodam XXI/Radin Inten akan membawahi wilayah strategis Provinsi Lampung dan Bengkulu.
Kristomei, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, menyampaikan rasa bangganya bisa mengabdi di tanah kelahiran. “Saya lahir dan besar di Lampung, bahkan pernah menjabat Komandan Kodim di sana. Jadi saya memahami potensi sekaligus tantangan yang ada di wilayah ini,” ujarnya usai pelantikan.
Perjalanan Karier Militer
Lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan 1994 ini melanjutkan pendidikan di Akademi Militer dan lulus pada tahun 1997. Di level batalyon, ia pernah memimpin Yonif Linud 328 dan Yonif Linud 305. Ia juga tercatat sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim) 0424 Tanggamus.
Di tingkat perwira tinggi, Kristomei pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI AD (2023–2024), Komandan Resimen Taruna (Danmentar) Akmil (2024), Wakil Gubernur Akmil (2024–2025), dan Kapuspen TNI (2025).
Cita-cita Awal yang Berbeda
Meski kini dikenal sebagai perwira tinggi TNI, Kristomei mengaku dulu bercita-cita menjadi seorang insinyur. Latar belakang keluarganya pun jauh dari dunia militer — ayahnya seorang wiraswasta, ibunya guru. Bahkan, ia sempat mendapat penolakan untuk menjadi tentara karena merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga Batak.
Pendidikan awal ditempuh di Lampung hingga SMP, lalu melanjutkan SMA di Bandung. Awalnya ia berencana masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik penerbangan, namun takdir membawanya ke SMA Taruna Nusantara di Magelang.
Kristomei mengenang, di awal masuk SMA, ia tegas menyatakan tidak ingin masuk ABRI. “Siap! Saya tidak suka ABRI,” begitu jawabannya saat diwawancarai waktu itu. Namun, kunjungan ke berbagai akademi militer membuat pandangannya berubah.
Menjelang kelulusan, ia mendaftar ke berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, mulai dari Akademi ABRI hingga STAN. Meskipun diterima di semua pilihan, keputusan akhirnya jatuh pada Akmil setelah lolos seleksi akhir. “Begitu diterima, saya merasa ini sudah jadi tanggung jawab. Maka saya jalani,” tegasnya.
Dengan pengalamannya yang luas dan kedekatan emosional terhadap Lampung, Kristomei optimis dapat membawa kemajuan bagi wilayah yang kini berada di bawah komandonya.(hil)











