Home / Hiburan / Film Animasi “Merah Putih: One For All” Dikecam, Netizen Soroti Kualitas dan Transparansi Produksi

Film Animasi “Merah Putih: One For All” Dikecam, Netizen Soroti Kualitas dan Transparansi Produksi

Majalahsuaraforum.com – Film animasi Merah Putih: One For All menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Bukan karena jalan cerita yang disajikan, melainkan kualitas animasi yang dinilai jauh dari harapan.

Padahal, film ini disebut menghabiskan biaya produksi hingga Rp 6,7 miliar, dengan proses pengerjaan yang selesai dalam waktu kurang dari satu bulan.

Film tersebut merupakan produksi rumah animasi Perfiki Kreasindo, disutradarai dan ditulis oleh Endiarto bersama Bintang, serta diproduseri oleh Toto Soegriwo. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Toto mengungkapkan secara terbuka bahwa proyek ini memang memerlukan dana miliaran rupiah.

Namun, singkatnya durasi pengerjaan memicu spekulasi bahwa produksi dilakukan terburu-buru demi mengejar jadwal rilis tepat pada momen Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Kualitas Animasi Jadi Sorotan

Banyak warganet menilai proses yang tergesa-gesa membuat kualitas animasi tidak maksimal. Tidak sedikit yang menganggap pengerjaan film ini menggunakan prinsip “the power of kepepet”.

Kritik semakin deras ketika muncul dugaan bahwa film ini menggunakan aset animasi beli jadi. Diketahui sejumlah aset dalam Merah Putih: One For All dibeli dari store Daz3D.

> “Mereka ada adegan jalan kan. Nah mereka belinya aset street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya,” ujar Yono Jambul, (11/8/2025).

 

Kondisi ini dinilai mengurangi nuansa lokal yang seharusnya menjadi kekuatan film bertema nasionalisme.

Harga Aset Picu Pertanyaan Publik

Temuan lain yang memicu diskusi adalah harga aset yang digunakan. Beberapa di antaranya hanya bernilai belasan dolar, menimbulkan tanda tanya besar mengapa biaya produksi bisa mencapai miliaran rupiah.

Aset yang digunakan mencakup empat model 3D, yaitu Jayden karya Junaid Miran, Tommy karya Chihuahua Studios, serta Ned dan Francis dari Reallusion. Total harga seluruhnya hanya sekitar US$ 43,50 atau setara Rp 700.000.

Dibandingkan dengan Produksi Lain

Perbandingan pun tak terhindarkan. Anime populer seperti One Piece atau Demon Slayer membutuhkan biaya sekitar Rp 1,8 miliar per episode, namun dengan hasil animasi yang halus dan detail.

Sementara itu, film animasi Indonesia terbaru berjudul Jumbo memakan biaya produksi sekitar Rp 70 miliar, dan berhasil memukau penonton serta menjadi salah satu film terlaris di tanah air.

Perbedaan ini membuat publik semakin kritis terhadap penggunaan anggaran dan kualitas yang dihasilkan Merah Putih: One For All.

Kontroversi ini menjadi peringatan bagi industri animasi Indonesia, bahwa transparansi biaya dan kualitas hasil produksi kini menjadi sorotan utama dari penonton yang semakin cerdas dan kritis.

 

Pen. Nal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Selamat Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Aceh