majalahsuaraforum com-Semangat perubahan tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kerja nyata dan kebersamaan. Hal inilah yang terlihat di Lapas Pemuda Kelas IIB Plantungan, ketika Kepala Lapas Suharno bersama jajaran petugas, peserta magang, dan warga binaan turun langsung ke lahan untuk melaksanakan kegiatan penanaman tomat buah sebagai bagian dari pengembangan program kemandirian dan ketahanan pangan.
Dengan semangat *“Seragam Boleh Kotor, Semangat dan Hati Selalu Menuju Perubahan”*, kegiatan ini menjadi gambaran nyata bahwa proses pembinaan membutuhkan kerja keras, keteladanan, serta keterlibatan semua pihak. Tak ada sekat ketika tangan mulai mengolah tanah, menyiapkan media tanam, dan menanam bibit tomat. Semua bergerak bersama, menyatukan langkah untuk menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang produktif, kreatif, dan terus berkembang.
Keterlibatan Kalapas bersama petugas dan peserta magang dalam kegiatan lapangan juga menjadi contoh langsung bagi warga binaan bahwa perubahan harus dimulai dari tindakan nyata. Melalui kegiatan bercocok tanam, warga binaan tidak hanya belajar teknik budidaya tanaman, tetapi juga dilatih menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, kesabaran, dan semangat kerja sama.
Penanaman tomat buah ini menjadi salah satu upaya Lapas Pemuda Plantungan dalam mengoptimalkan lahan yang tersedia agar lebih produktif dan memiliki nilai manfaat. Proses budidaya akan dilanjutkan dengan perawatan rutin, mulai dari penyiraman, pemupukan, pengendalian gulma, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman. Dengan perawatan yang tepat dan konsisten, diharapkan tanaman tomat dapat tumbuh optimal serta menghasilkan buah yang berkualitas.
Kalapas Pemuda Plantungan, Suharno, menegaskan bahwa kegiatan sederhana di lahan pertanian memiliki makna besar dalam membangun budaya kerja dan semangat pembinaan.
“Tidak masalah seragam kita kotor terkena tanah, karena yang terpenting adalah semangat dan hati kita tetap bersih serta memiliki tujuan yang sama, yaitu menuju perubahan yang lebih baik. Kami ingin menunjukkan bahwa pembinaan bukan hanya sebatas arahan, tetapi juga melalui keteladanan dan kerja nyata. Petugas, peserta magang, dan warga binaan harus mampu saling mendukung untuk menciptakan kegiatan yang produktif dan bermanfaat,” tegas Suharno.
Ia juga berharap kegiatan pertanian yang dikembangkan di lingkungan lapas dapat menjadi sarana pembelajaran keterampilan bagi warga binaan. Bekal pengetahuan dan pengalaman tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat, sehingga mampu menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.
Melalui kegiatan ini, Lapas Pemuda Plantungan terus berupaya mendukung program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian sejalan dengan arah kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Pemanfaatan lahan secara optimal menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berinovasi dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Dari tanah yang diolah bersama, tumbuh harapan untuk masa depan yang lebih baik. Di Lapas Pemuda Plantungan, seragam boleh kotor, tangan boleh berlumur tanah, tetapi semangat pengabdian, kebersamaan, dan tekad untuk berubah harus tetap terjaga.(hil)










