majalahsuaraforum.com – Rocky Gerung resmi masuk dalam jajaran anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Rocky dilantik bersama sejumlah tokoh lain yang mengisi struktur baru Wantimpres. Dalam susunan tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai ketua, sedangkan Hatta Rajasa menjabat wakil ketua.
Pengangkatan ini menjadi bagian baru dalam perjalanan Rocky Gerung yang selama ini dikenal melalui aktivitasnya sebagai akademikus, filsuf, komentator politik, dan intelektual publik.
Sebelum bergabung dengan Wantimpres, Rocky memiliki rekam aktivitas di lingkungan perguruan tinggi, organisasi masyarakat, partai politik, serta berbagai forum yang membahas isu politik, sosial, dan kebangsaan.
Ia pernah mengajar di Universitas Indonesia (UI), menjadi salah satu pendiri Setara Institute, serta terlibat dalam pendirian dan aktivitas sejumlah partai politik.
Pada Januari 2026, Rocky juga memberikan keterangan sebagai ahli meringankan dalam perkara dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang menyeret Roy Suryo dan sejumlah pihak lainnya.
Profil Rocky Gerung
Rocky Gerung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959. Ia mulai menjalani pendidikan tinggi di Universitas Indonesia pada 1979.
Ketika pertama kali masuk perguruan tinggi, Rocky mengambil jurusan ilmu hubungan internasional. Namun, pendidikan di jurusan tersebut tidak diselesaikannya. Ia kemudian beralih ke jurusan ilmu filsafat dan memperoleh gelar sarjana sastra dari bidang tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Rocky tetap berkegiatan di lingkungan UI. Ia mengajar di Departemen Ilmu Filsafat sebagai dosen tidak tetap.
Beberapa mata kuliah yang pernah diajarkannya meliputi seminar teori keadilan, filsafat politik, dan metode penelitian filsafat. Ia juga pernah mengajar di program pascasarjana.
Rocky tercatat mengajar di UI selama kurang lebih 15 tahun. Aktivitas mengajarnya berakhir pada awal 2015, antara lain karena adanya ketentuan mengenai kualifikasi pendidikan minimal magister bagi dosen. Rocky sendiri memiliki gelar sarjana.
Latar belakang pendidikan filsafat tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari perjalanan Rocky di bidang akademik dan berbagai forum intelektual.
Mengajar di Sejumlah Lembaga dan Aktif di Organisasi
Selain beraktivitas di UI, Rocky juga pernah memberikan materi di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas).
Ia turut memberikan materi kepada sejumlah perwira Polri dan TNI serta pernah mengajar di Megawati Institute.
Aktivitasnya di bidang pemikiran juga terlihat dari keterlibatannya sebagai salah satu pendiri Setara Institute. Nama Rocky tercatat dalam daftar tokoh yang turut mengawali berdirinya organisasi tersebut.
Rocky juga tercatat sebagai fellow di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D). Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademiknya sebelum kemudian lebih banyak dikenal melalui aktivitas pemikiran publik dan politik.
Dikutip dari Antara, Wakil Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu pernah menyebut Rocky sebagai ahli filsafat yang memiliki pengalaman mengajar di UI.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Rocky menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional yang berlangsung di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Seminar tersebut mengangkat tema “Mahasiswa: Peran dan Ikhtiar dalam Menjaga Stabilitas Politik Nasional”. Menurut Thariq, kehadiran Rocky di kampus dapat mendorong mahasiswa untuk membangun perdebatan ilmiah secara konstruktif.
“Rocky Gerung bukan sosok baru, namun intelektualitasnya mampu merangsang para mahasiswa untuk melakukan debat ilmiah yang konstruktif dalam membangun sebuah paradigma positif,” ujar Thariq.
Thariq juga menyampaikan bahwa kehadiran Rocky di UNG memberikan sudut pandang mengenai peran kampus sebagai ruang untuk berpikir dan berdiskusi.
Pernah Terlibat dalam Pendirian Partai Politik
Aktivitas Rocky Gerung tidak hanya berkaitan dengan dunia akademik. Ia juga memiliki pengalaman dalam pendirian dan kegiatan partai politik.
Pada 2002, Rocky bersama Sjahrir dan sejumlah tokoh lainnya terlibat dalam pendirian Partai Indonesia Baru. Dalam data mengenai partai tersebut, Rocky tercatat sebagai salah satu pendiri.
Namun, keterlibatannya dalam kepengurusan Partai Indonesia Baru tidak berlangsung lama. Pada 2011, Rocky kemudian bergabung dengan Partai Serikat Rakyat Independen (SRI).
Dalam struktur Partai SRI, Rocky tercatat sebagai bagian dari Majelis Pertimbangan Partai. Namanya juga tercantum sebagai ketua bidang politik dan pendidikan.
Pada saat itu, Partai SRI termasuk salah satu partai yang mendorong pencalonan Sri Mulyani sebagai calon presiden untuk Pemilu 2014.
Akan tetapi, Partai SRI tidak dapat mengikuti tahapan pemilu karena tidak lolos proses verifikasi sebagai peserta pemilu.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rocky dalam bidang politik melalui organisasi dan partai, selain aktivitasnya di lingkungan akademik dan forum publik.
Aktif dalam Berbagai Forum Politik
Seiring berjalannya waktu, Rocky juga semakin sering hadir dalam berbagai forum diskusi yang membahas persoalan politik, sosial, kepemimpinan, dan kebangsaan.
Salah satunya terjadi pada Februari 2019 ketika Rocky menghadiri diskusi yang digelar Relawan Prabowo-Sandiaga Pas di Hati atau Prasasti di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam kegiatan tersebut, Rocky disebut sebagai aktivis sekaligus mantan dosen filsafat UI.
Diskusi yang digelar di Hotel Tamu, Kampung Baru, Kuala Lumpur itu mengangkat tema “Kriteria Pemimpin yang Mempererat Persatuan Bangsa”. Kegiatan tersebut dihadiri para relawan yang mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Dalam forum itu, Rocky membahas gagasan mengenai perubahan dan menghubungkannya dengan konsep akal sehat dalam kehidupan politik setelah Pemilu 2019.
“Akal sehat bukan hanya sampai 17 April 2019, tetapi setelah itu. Jadi akal sehat adalah sebuah peradaban. Kalau Kuala boleh berlumpur, tetapi akal itu tidak boleh berlumpur,” ujar Rocky dalam diskusi tersebut.
Hadir dalam Acara Golkar Institute
Aktivitas Rocky dalam berbagai forum politik juga berlanjut pada 2024.
Saat itu, Partai Golkar melalui Golkar Institute mengundangnya sebagai pembicara dalam acara peluncuran sekaligus bedah buku Jalan Tengah Golongan Karya.
Buku tersebut ditulis oleh Erwin Aksa dan Syarif Cicip Sutardjo. Dalam acara tersebut, Rocky tampil sebagai pembicara bersama pakar politik Siti Zuhro.
Menjadi Ahli Meringankan dalam Perkara Roy Suryo
Pada Januari 2026, nama Rocky kembali muncul dalam pemberitaan setelah dirinya mendatangi Polda Metro Jaya.
Kedatangannya ketika itu berkaitan dengan perannya sebagai ahli meringankan bagi Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma dalam perkara dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Rocky datang pada akhir Januari 2026 setelah dipanggil penyidik untuk memberikan keterangan sebagai ahli. Dalam pemeriksaan tersebut, ia menjelaskan mengenai fungsi metode dalam penelitian.
“Enggak ada urusan memberatkan, meringankan, saya ingin menerangkan fungsi dari metode di dalam meneliti, di dalam mencurigai itu. Mencurigai itu bagian yang paling penting dari pengetahuan,” kata Rocky di Polda Metro Jaya,
Dalam pemeriksaan tersebut, Rocky memberikan pandangan terkait metodologi penelitian yang digunakan dalam perkara tersebut.
Kehadirannya dalam perkara itu berada dalam kapasitas sebagai ahli yang diajukan pihak tersangka, bukan sebagai pihak yang menjadi tersangka.
Resmi Dilantik sebagai Anggota Wantimpres
Perjalanan Rocky Gerung memasuki posisi baru pada Jumat (2/10/2026). Pada hari tersebut, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Sebelum prosesi pelantikan, Rocky terlihat tiba di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Kehadirannya menjadi perhatian setelah sebelumnya namanya dikaitkan dengan jajaran Wantimpres.
Setelah pelantikan berlangsung, Rocky resmi tercatat sebagai salah satu anggota Wantimpres. Lembaga tersebut dipimpin Pratikno sebagai ketua dan Hatta Rajasa sebagai wakil ketua.
Dengan jabatan tersebut, Rocky kini menjadi bagian dari lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada presiden.
Pelantikan ini menambah babak baru dalam perjalanan publik Rocky Gerung yang selama ini mencakup aktivitas di dunia akademik, organisasi, partai politik, serta berbagai forum diskusi mengenai politik dan persoalan kebangsaan.
de.











