majalahsuaraforum.com – Penyanyi kenamaan Tanah Air, Andien Aisyah, membuka kisah menyedihkan yang pernah dialaminya di masa lalu. Dalam perbincangan di kanal YouTube Comic 8 Revolution yang dikutip Rabu (12/11/2025), pelantun lagu Gemintang itu mengungkap bahwa dirinya pernah menjadi korban kekerasan dalam hubungan asmara, baik secara fisik maupun verbal.
Pengalaman tersebut, diakui Andien, meninggalkan luka yang mendalam dan sempat membuatnya sulit bangkit. Ia menceritakan bahwa perlakuan kasar tersebut tidak hanya terjadi sekali, melainkan berulang-ulang selama menjalin hubungan.
“Trauma di-abuse, gue di-abuse banyak sepanjang pacaran. Abuse fisik sekali, tapi verbal berkali-kali,” tutur Andien dengan suara bergetar.
Ia menambahkan, kata-kata kasar yang dilontarkan pasangannya saat itu membuatnya merasa tidak berharga. Hingga pada satu titik, kekerasan fisik yang diterimanya membuat wajahnya membiru. “Makeup artist gue tahu banget waktu itu. Bagian wajah yang membiru ditutupi dengan makeup,” ujarnya mengenang masa itu.
Tidak hanya itu, Andien juga mengaku pernah dipukul menggunakan kunci setir. Namun karena diliputi rasa takut dan malu, ia memilih untuk tetap diam dan menutupi kenyataan tersebut dari keluarganya. “Gue udah berusaha kabur, tetapi balik lagi. Sering bohong ke nyokap supaya enggak khawatir,” ucapnya lirih.
Andien mengaku proses penyembuhan diri memerlukan waktu panjang. Ketika ia mulai dekat dengan sang suami, Irfan Wahyudi atau yang akrab disapa Ippe, orang tuanya sempat merasa khawatir bahwa hubungan tersebut hanyalah bentuk pelarian dari masa lalu. Namun, seiring berjalannya waktu, Andien menyadari bahwa hubungan yang ia jalani kini berbeda.
“Dahulu gue merasa korban, tetapi ternyata pola hubungan juga bisa berperan. Gue belajar memperbaiki itu, dan semuanya berubah,” kata Andien.
Ia juga menuturkan bahwa pengalaman pahit itu sempat menjadi inspirasi dalam beberapa karya musiknya. Bagi Andien, kekerasan domestik adalah isu yang dahulu sulit dibicarakan secara terbuka karena adanya tekanan sosial. Namun, ia bersyukur bahwa kini masyarakat sudah lebih terbuka terhadap isu tersebut.
“Dulu, kasus kekerasan domestik susah banget diekspose karena banyak hambatan. Sekarang, dengan publikasi dan dunia digital, semuanya bisa lebih mudah disuarakan,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Andien menyampaikan pesan kuat untuk para korban kekerasan agar tidak takut bersuara dan mencari pertolongan. “Saya harap semua yang mengalami kekerasan domestik bisa lebih berani untuk membukanya,” pesan Andien dengan tegas.
Kisah keberanian Andien menjadi cermin bahwa luka masa lalu bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju penyembuhan dan pemberdayaan diri. Melalui pengalaman pribadinya, ia ingin menegaskan bahwa tidak ada korban yang harus menanggung penderitaan dalam diam.
Aan.











