majalahsuaraforum.com – 3 Oktober 2025 Sosok hacker dengan nama samaran Bjorka akhirnya berhasil diamankan pihak kepolisian. Pemuda berinisial WFT (22) asal Minahasa, Sulawesi Utara, itu ditangkap Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya pada akhir September, setelah adanya laporan dari sebuah bank swasta yang merasa datanya diretas.
Penangkapan dan Identitas Pelaku WFT diamankan di rumahnya di Kecamatan Kakas Barat, Minahasa. Dari hasil penyelidikan, polisi mendapati bahwa ia diduga sebagai dalang di balik sejumlah akun peretas yang beroperasi di forum gelap internet. Beberapa nama samaran yang digunakannya antara lain Bjorka, SkyWave, Shint Hunter, dan Oposite6890.
Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus, menegaskan bahwa pemuda ini bukan seorang ahli IT. Bahkan, ia tidak berhasil menamatkan sekolah menengah kejuruan (SMK).
“Jadi yang bersangkutan ini bukan ahli IT, hanya orang yang tidak lulus SMK. Namun, sehari-hari secara otodidak dia selalu mempelajari IT,” jelas Fian kepada wartawan, Jumat (3/10/2025).
Perjalanan di Dunia Maya Gelap Berdasarkan penelusuran kepolisian, WFT menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer tanpa pekerjaan tetap. Sejak 2020, ia mulai mengenal komunitas dunia maya gelap dan mendalami cara memperoleh keuntungan dengan memperjualbelikan data pribadi.
Jejak digitalnya terlacak pertama kali pada Desember 2024 di forum darkforum.st, saat ia menggunakan identitas Bjorka. Setelah itu, ia berganti nama menjadi SkyWave, kemudian Shint Hunter pada Maret 2025, dan terakhir Oposite6890 pada Agustus 2025. Semua aktivitas peretasan ini, menurut polisi, dilakukan seorang diri.
Motivasi Utama: Uang Dalam pemeriksaan, WFT mengaku melakukan aksinya untuk mendapatkan keuntungan finansial. Ia bisa meraup hingga puluhan juta rupiah hanya dari sekali transaksi penjualan data. Meski begitu, polisi belum dapat memastikan berapa total keuntungan yang berhasil diperolehnya.
“Pengakuannya sekali menjual data bisa bernilai puluhan juta rupiah, tergantung pembeli di dark forum,” ujar Fian.
Selain menggunakan forum gelap, WFT juga diketahui memanfaatkan platform media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram untuk memperdagangkan data. Sistem pembayaran yang digunakan adalah mata uang kripto, sehingga lebih sulit dilacak.
Awal Terungkapnya Kasus Kasus ini mencuat pada Februari 2025, ketika akun @bjorkanesiaa mempublikasikan database berisi jutaan data nasabah dari sebuah bank swasta. Bahkan, WFT sempat mengklaim berhasil membobol 4,9 juta data nasabah serta mengirimkan pesan berisi ancaman pemerasan.
Namun, upaya tersebut tidak pernah terealisasi. Pihak bank yang menjadi korban langsung melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian, sehingga rencana pemerasan dapat digagalkan sejak awal.
Kasubdit IV Siber Polda Metro Jaya, AKBP Herman Edco Wijaya Simbolon, menegaskan bahwa motif dari pelaku memang pemerasan. “Motif pelaku adalah pemerasan terhadap bank. Akan tetapi, rencana tersebut berhasil digagalkan sejak awal oleh aparat,” tegas Herman.
Hil.










