majalahsuaraforum.com – Ketegangan di Jalur Gaza kembali meningkat setelah serangan udara Israel pada Sabtu (13/9/2025) menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina, termasuk 12 anak-anak. Menurut laporan medis Rumah Sakit Shifa, jenazah para korban langsung dibawa ke kamar jenazah, sementara ribuan warga lainnya masih menghadapi tekanan besar untuk segera meninggalkan kota.
Dalam beberapa hari terakhir, intensitas serangan Israel di Kota Gaza terus meningkat. Sejumlah gedung tinggi dihancurkan dengan dalih digunakan kelompok Hamas sebagai pusat kendali maupun fasilitas pengawasan.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa salah satu target serangan adalah gedung yang dituding sebagai fasilitas Hamas. Langkah ini disebut sebagai bagian dari operasi besar untuk merebut kendali penuh atas Kota Gaza, yang masih dianggap sebagai benteng terakhir Hamas.
Namun, dampak terbesar dari operasi militer ini justru dirasakan oleh masyarakat sipil. Ratusan ribu warga Palestina masih terjebak di Gaza dalam kondisi sangat sulit, banyak di antaranya yang mengalami kelaparan karena minimnya pasokan makanan dan bantuan.
Salah satu serangan di kawasan Sheikh Radwan pada dini hari menewaskan satu keluarga beranggotakan 10 orang, termasuk seorang ibu dan tiga anaknya. Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Palestina melaporkan kematian pemain klub Al-Helal Sporting Club, Mohammed Ramez Sultan, yang ikut tewas bersama 14 anggota keluarganya. Rekaman video dari lokasi menunjukkan ledakan besar yang diikuti asap hitam membubung tinggi.
Di sisi lain, keluarga para sandera Israel menggelar demonstrasi di Tel Aviv. Mereka mendesak pemerintah segera mencari jalan untuk membebaskan orang-orang tercinta yang masih ditawan Hamas.
Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker, menyebut upaya pemerintah Israel menyerang pemimpin Hamas di Qatar sebagai “kegagalan spektakuler”. Ia juga menuding Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru memperlambat jalannya proses negosiasi pembebasan.
Situasi semakin rumit setelah tentara Israel kembali memerintahkan warga sipil Gaza untuk mengungsi ke arah selatan. Hingga kini, lebih dari 250.000 orang dilaporkan sudah meninggalkan kota, meskipun PBB memperkirakan jumlahnya lebih rendah, yakni sekitar 100.000 orang. Biaya besar untuk pindah membuat banyak keluarga tidak sanggup, sementara wilayah selatan sendiri sudah penuh sesak dan dinilai tidak aman.
PBB memperingatkan bahwa langkah pemindahan massal ini berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan. Data menunjukkan lebih dari 86.000 tenda bantuan masih tertahan dan belum bisa masuk ke Gaza. Dalam 24 jam terakhir saja, tujuh warga, termasuk anak-anak, meninggal karena kekurangan gizi, sehingga jumlah korban kelaparan sejak pecahnya perang sudah mencapai 420 orang, dengan 145 di antaranya anak-anak.
Konflik di Gaza bermula pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas menyerang wilayah selatan Israel dan menculik 251 orang. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan besar-besaran yang hingga kini telah menewaskan setidaknya 64.803 warga Palestina.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut hampir separuh korban adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, sekitar 90% dari total dua juta penduduk Gaza kini kehilangan tempat tinggal akibat kehancuran besar-besaran di berbagai kota.
Keluarga para sandera yang masih tertahan di Gaza terus mendesak pemerintah Israel untuk menghentikan serangan, karena mereka khawatir orang-orang yang dicintai ikut menjadi korban. Hingga kini, diperkirakan masih ada 48 sandera, dengan sekitar 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Red.











