Majalahsuaraforum.com – Di tengah maraknya dominasi media sosial yang kian tak terbendung, Komisi I DPR RI menyuarakan keprihatinan atas nasib para jurnalis yang kian terpinggirkan. Banyak pekerja media kini menghadapi pemutusan hubungan kerja atau dirumahkan karena perusahaan pers tak lagi mampu bertahan secara finansial.
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal MI atau yang akrab disapa Deng Ical, menilai fenomena ini sebagai dampak langsung dari menjamurnya platform media sosial tanpa regulasi yang jelas. Menurutnya, keberadaan media sosial telah “mematikan” industri pers secara perlahan.
“Ini bukan hanya soal media, tapi soal ekosistem informasi kita. Pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Digital, perlu mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan industri pers dan para pekerjanya,” ujar Deng Ical dalam rapat bersama kementerian terkait.
Ia mengusulkan agar pemerintah mulai merancang platform digital nasional yang dikelola bersama dengan kalangan akademik, agar sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan serta mampu melindungi data pribadi masyarakat.
Hasil reses DPR di sejumlah daerah menunjukkan kekhawatiran yang sama dari para pelaku media. Banyak jurnalis yang kehilangan pekerjaan akibat pendapatan iklan media konvensional tersedot ke platform digital dan konten kreator yang tidak terikat etika jurnalistik.
Anggota Komisi I lainnya, TB Hasanuddin, menambahkan bahwa wartawan, sebagai salah satu pilar demokrasi, layak mendapat perhatian khusus dari negara. Ia menyoroti ketimpangan dalam industri media yang banyak dikuasai oleh pengusaha besar, yang lebih mementingkan kepentingan korporasi dibanding kesejahteraan karyawan.
“Negara harus hadir. Kalau prajurit TNI saja kami perjuangkan hak dan kesejahteraannya, maka jurnalis pun harus kita bela,” tegas Hasanuddin.
Komisi I mendorong pemerintah segera merevisi berbagai regulasi, termasuk UU Pers dan UU Penyiaran, agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital dan tetap menjamin keberlangsungan hidup para jurnalis.
Pen. Dew.










